Apa yang
Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Smartwatch Pertama Kali?
Membeli smartwatch pertama kali kelihatannya mudah.
Buka marketplace, tentukan budget, pilih desain yang paling menarik,
lalu cari produk dengan fitur paling banyak.
Tetapi semakin banyak melihat pilihan, biasanya justru semakin
bingung.
Ada smartwatch murah yang menawarkan Bluetooth Calling, puluhan mode
olahraga, sensor kesehatan, bahkan layar AMOLED. Di sisi lain, ada smartwatch
yang harganya beberapa kali lebih mahal tetapi kalau dilihat sekilas fiturnya
seperti tidak jauh berbeda.
Lalu muncul pertanyaan:
Sebenarnya apa yang harus diperhatikan sebelum membeli smartwatch
pertama kali?
Menurut saya, kesalahan paling umum justru terlalu fokus pada jumlah
fitur.
Smartwatch yang bagus bukan selalu yang mempunyai menu paling
banyak. Yang lebih penting adalah fiturnya sesuai dengan kebutuhan dan
nyaman digunakan setiap hari.
Kalau sekarang sedang mempertimbangkan smartwatch pertama, beberapa
hal berikut layak diperhatikan sebelum membeli.
Mulai dari
Pertanyaan Sederhana: Smartwatch Ini Mau Dipakai untuk Apa?
Sebelum
membandingkan spesifikasi, tentukan dulu alasan membeli smartwatch.
Apakah
ingin melihat notifikasi tanpa sering membuka HP?
Membutuhkan
smartwatch untuk olahraga?
Ingin
mencatat langkah dan aktivitas harian?
Butuh
Bluetooth Calling?
Atau
sebenarnya hanya ingin jam tangan dengan tampilan modern dan watch face yang
bisa diganti?
Tidak
ada jawaban yang salah.
Justru
mengetahui kebutuhan sejak awal membuat pilihan jauh lebih mudah.
Kalau
kebutuhan utamanya hanya notifikasi, langkah, alarm, dan Bluetooth Calling,
belum tentu kita membutuhkan smartwatch dengan GPS atau fitur olahraga yang
sangat lengkap.
Sebaliknya,
kalau sering jogging tanpa membawa HP, keberadaan built-in GPS bisa jauh lebih
penting daripada ratusan pilihan watch face.
Jangan Terpancing Jumlah
Fitur
Ini salah
satu bagian yang paling mudah menarik perhatian ketika melihat halaman produk.
100+
Sports Mode.
100+
Watch Face.
24
Hours Health Monitoring.
Daftar
fiturnya terlihat panjang sekali.
Sekilas
tentu mengesankan.
Tetapi
coba tanyakan kembali:
berapa
banyak yang benar-benar akan digunakan?
Smartwatch
bisa mempunyai lebih dari seratus mode olahraga, tetapi kalau aktivitas kita
hanya jalan kaki, jogging, dan bersepeda, sebagian besar mode tersebut mungkin
tidak pernah dibuka.
Hal yang
sama berlaku pada watch face.
Punya 300
pilihan terdengar menarik, tetapi setelah beberapa minggu biasanya kita hanya
memakai beberapa tampilan favorit.
Saya lebih
memilih smartwatch dengan fitur yang tidak terlalu banyak tetapi bekerja dengan
baik daripada perangkat dengan daftar fitur panjang tetapi pengalaman
penggunaannya kurang nyaman.
Perhatikan
Kompatibilitas dengan Smartphone
Ini
termasuk hal yang sebaiknya dicek sebelum membeli, bukan setelah paket tiba.
Periksa
apakah smartwatch mendukung:
Android
atau
iPhone/iOS
yang
digunakan.
Beberapa
smartwatch dapat digunakan pada keduanya, tetapi fitur tertentu kadang berbeda.
Versi
sistem operasi minimum juga perlu diperhatikan.
Smartwatch
lama bisa saja membutuhkan versi Android atau iOS tertentu.
Kalau
smartphone kita sudah sangat lama atau justru menggunakan sistem yang sangat
baru, kompatibilitas aplikasi pendamping juga penting.
Jangan
hanya melihat smartwatch-nya.
Periksa
juga aplikasinya.
Aplikasi
Pendamping Sama Pentingnya dengan Smartwatch
Menurut
saya, ini bagian yang cukup sering dilupakan calon pembeli.
Smartwatch
tidak berdiri sendiri.
Sebagian
pengalaman justru terjadi melalui aplikasi smartphone.
Di
aplikasi biasanya kita:
mengatur
notifikasi,
melihat
riwayat olahraga,
memeriksa
data tidur,
mengganti
watch face,
mengatur
sensor,
dan
melakukan update firmware.
Kalau
aplikasinya sulit digunakan atau sering bermasalah, smartwatch yang secara
hardware bagus tetap bisa terasa kurang nyaman.
Sebelum
membeli, coba cari tahu nama aplikasi pendampingnya.
Lihat
apakah tersedia di Google Play Store atau App Store.
Baca
juga beberapa ulasan pengguna, terutama mengenai koneksi dan sinkronisasi.
Perhatikan Ukuran Smartwatch
Foto produk
sering membuat smartwatch terlihat pas di semua tangan.
Dalam
penggunaan nyata belum tentu.
Smartwatch
dengan layar hampir 2 inci bisa terasa besar pada pergelangan tangan tertentu.
Sebaliknya,
smartwatch yang terlalu kecil mungkin terasa kurang nyaman ketika membaca
notifikasi.
Karena itu,
jangan hanya melihat ukuran layar.
Perhatikan
juga:
diameter
atau panjang casing,
lebar
casing,
ketebalan,
dan ukuran
strap.
Kalau
memungkinkan, bandingkan dengan jam yang sudah biasa dipakai.
Ukuran yang
nyaman jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren layar besar.
Bentuk Bulat atau Kotak?
Ini sebenarnya
lebih banyak soal selera, tetapi tetap memengaruhi pengalaman penggunaan.
Smartwatch kotak
biasanya mempunyai ruang layar yang lebih efisien untuk membaca teks dan menu.
Notifikasi terasa
lebih mudah ditampilkan karena bentuk layar mengikuti susunan tulisan.
Smartwatch bulat
mempunyai kesan lebih dekat dengan jam tangan tradisional.
Untuk pengguna
yang mengutamakan penampilan, model bulat bisa terasa lebih natural.
Tidak ada yang
benar atau salah.
Yang penting
adalah bentuknya nyaman dipakai dan sesuai dengan gaya pengguna.
Perhatikan Jenis Layarnya
Sekarang kita
sering menemukan dua jenis layar utama pada smartwatch:
TFT/LCD
dan
AMOLED.
AMOLED biasanya
menawarkan warna hitam lebih pekat dan kontras yang lebih tinggi.
Watch face
dengan latar gelap terlihat sangat menarik.
Banyak
smartwatch AMOLED juga mendukung Always-On Display.
Namun TFT yang
bagus masih sangat layak untuk penggunaan sehari-hari.
Kalau budget
terbatas, saya tidak akan memaksakan membeli AMOLED hanya karena istilahnya
terdengar lebih premium.
Kualitas layar
secara keseluruhan juga dipengaruhi oleh:
resolusi,
brightness,
respons
touchscreen,
dan ukuran
panel.
Jangan Hanya Melihat
Ukuran Layar
Misalnya
ada smartwatch 2,01 inci.
Kelihatannya
sangat besar.
Tetapi
bagaimana resolusinya?
Bagaimana
bezel-nya?
Bagaimana
brightness-nya?
Layar
besar dengan resolusi rendah bisa membuat tulisan terlihat kurang halus.
Sebaliknya,
layar sedikit lebih kecil dengan resolusi yang baik dapat terasa jauh lebih
nyaman.
Jadi
ukuran inci bukan satu-satunya indikator kualitas.
Brightness
Penting untuk Penggunaan Outdoor
Kalau
smartwatch sering digunakan di luar ruangan, layar harus cukup terang.
Smartwatch
yang terlihat bagus di dalam ruangan belum tentu mudah dibaca di bawah sinar
matahari.
Kalau
tersedia informasi brightness dalam nits, itu bisa menjadi referensi.
Tetapi
pengujian atau review penggunaan nyata tetap lebih membantu.
Bagi
pengguna yang sering olahraga outdoor, layar yang mudah dibaca di bawah
matahari kadang lebih penting daripada ukuran yang besar.
Bluetooth Calling:
Perlu atau Tidak?
Bluetooth
Calling termasuk fitur yang sekarang cukup umum bahkan pada smartwatch
terjangkau.
Dengan
fitur ini, kita dapat menerima panggilan melalui speaker dan mikrofon
smartwatch selama masih terhubung dengan smartphone.
Fitur
ini terasa berguna ketika:
HP
berada di dalam tas,
sedang
bekerja,
atau
hanya ingin menjawab panggilan singkat.
Tetapi
kalau jarang menerima telepon, fitur tersebut mungkin tidak terlalu penting.
Perlu
dipahami juga bahwa Bluetooth Calling bukan berarti smartwatch dapat
menelepon sendiri tanpa HP.
Untuk
itu dibutuhkan smartwatch dengan koneksi seluler seperti LTE/eSIM pada model
tertentu.
Periksa Kualitas
Speaker dan Mikrofon
Kalau
Bluetooth Calling penting, jangan hanya melihat apakah fitur tersebut tersedia.
Kualitasnya
juga perlu diperhatikan.
Smartwatch
bisa sama-sama mendukung panggilan tetapi hasilnya berbeda.
Ada
yang speakernya keras dan jelas.
Ada
yang terlalu pelan.
Mikrofonnya
juga dapat berbeda.
Untuk
mengetahui bagian ini, review penggunaan nyata biasanya lebih berguna daripada
tabel spesifikasi.
GPS: Jangan Sampai Salah
Paham
Tulisan GPS
cukup sering membuat calon pembeli salah mengerti.
Ada Built-in
GPS dan ada Connected GPS.
Built-in
GPS berarti smartwatch mempunyai kemampuan navigasi satelit sendiri.
Connected
GPS berarti smartwatch memanfaatkan GPS dari smartphone.
Kalau
sering jogging tanpa membawa HP, built-in GPS jauh lebih penting.
Kalau
selalu membawa smartphone ketika olahraga, connected GPS mungkin sudah cukup.
Jadi selalu
periksa jenis GPS-nya.
Jangan
hanya percaya tulisan “GPS” pada poster produk.
Mode Olahraga
Banyak Belum Tentu Lebih Baik
Smartwatch
sekarang sering menawarkan lebih dari seratus mode olahraga.
Angkanya
memang menarik.
Tetapi
menurut saya, yang lebih penting adalah apakah olahraga yang memang kita
lakukan tersedia dengan baik.
Kalau
hanya menggunakan:
jalan
kaki,
lari,
bersepeda,
dan
latihan bebas,
ratusan
mode lain tidak terlalu berpengaruh.
Untuk
olahraga tertentu, lihat juga data apa yang direkam.
Jangan
hanya melihat jumlah modenya.
Sensor Kesehatan
Perlu Dipahami dengan Benar
Detak
jantung dan SpO2 sudah cukup umum ditemukan pada smartwatch.
Beberapa
produk juga menawarkan:
tekanan
darah,
stres,
tidur,
bahkan
klaim gula darah.
Untuk
penggunaan kebugaran, data sensor dapat menjadi informasi yang menarik.
Tetapi
jangan langsung menganggap smartwatch sebagai alat medis.
Terutama
untuk fitur kesehatan yang klaimnya cukup besar.
Kalau
suatu fitur benar-benar penting untuk kesehatan, cari tahu teknologi,
dokumentasi, dan validasinya.
Jangan
membeli hanya karena daftar sensornya panjang.
Perhatikan Daya Tahan
Baterai
Ini salah
satu spesifikasi yang menurut saya paling penting.
Smartwatch
bagus tetapi harus terlalu sering di-charge bisa terasa merepotkan.
Namun klaim
seperti:
“baterai
10 hari”
tidak
berarti semua pengguna pasti mendapatkan hasil yang sama.
Daya tahan
dipengaruhi oleh:
Always-On
Display,
brightness,
Bluetooth
Calling,
GPS,
sensor
otomatis,
notifikasi,
dan cara
penggunaan.
Cari tahu
estimasi penggunaan normal, bukan hanya kapasitas baterai dalam mAh.
Kapasitas
Baterai Besar Belum Tentu Lebih Awet
Dua
smartwatch dapat mempunyai kapasitas berbeda tetapi daya tahan nyata justru
hampir sama.
Kenapa?
Karena
konsumsi daya perangkatnya juga berbeda.
Layar
besar membutuhkan energi.
GPS
membutuhkan energi.
Chipset
dan optimasi software juga memengaruhi.
Jadi
angka mAh sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar.
Yang
lebih penting adalah hasil penggunaan keseluruhan.
Perhatikan Cara Charging
Smartwatch
mempunyai metode charging yang berbeda.
Ada yang
menggunakan:
magnetic pin,
charging puck,
wireless
charging,
atau sistem
khusus lainnya.
Pertanyaan
sederhana yang sebaiknya dipikirkan:
Kalau charger
ini hilang dua tahun lagi, apakah mudah mencari gantinya?
Untuk smartwatch
dari brand besar biasanya lebih mudah.
Untuk smartwatch
generik, belum tentu.
Karena itu
charger bawaan sebaiknya disimpan dengan baik.
Ketahanan Air
Jangan Dibaca Sembarangan
Kita
sering menemukan:
IP67,
IP68,
3ATM,
5ATM,
atau
rating lainnya.
Jangan
langsung menerjemahkan semuanya sebagai:
“boleh dibawa berenang.”
Rating
mempunyai kondisi pengujian berbeda.
Jika
ingin menggunakan smartwatch untuk berenang, cari perangkat yang memang secara
jelas dinyatakan mendukung aktivitas tersebut.
Untuk
mandi air panas atau sauna, saya justru lebih berhati-hati.
Ketahanan
air tidak sama dengan ketahanan terhadap suhu tinggi.
Strap Sangat
Mempengaruhi Kenyamanan
Smartwatch
mungkin hanya dipakai beberapa menit ketika dicoba di toko.
Dalam
kenyataan, jam digunakan berjam-jam.
Karena
itu strap sangat penting.
Strap
silikon biasanya praktis untuk olahraga.
Nylon
terasa ringan.
Kulit
memberikan tampilan lebih formal.
Metal
terlihat premium tetapi dapat terasa lebih berat.
Untungnya,
banyak smartwatch menggunakan strap yang dapat diganti.
Kalau
ukuran strap standar, kita bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan.
Cek Apakah Strap Mudah
Diganti
Ini
terdengar seperti detail kecil.
Tetapi
setelah beberapa bulan penggunaan, strap bisa:
kotor,
berbau,
rusak,
atau kita
sekadar bosan dengan tampilannya.
Smartwatch
dengan mekanisme strap yang mudah ditemukan penggantinya mempunyai keuntungan
jangka panjang.
Saya
pribadi melihat ini sebagai salah satu nilai plus.
Jangan Lupakan Bobot
Smartwatch
Smartwatch
besar biasanya terlihat gagah.
Tetapi
kalau beratnya mengganggu, kita mungkin malas menggunakannya sepanjang hari.
Bobot
juga terasa ketika dipakai tidur.
Kalau
ingin menggunakan sleep tracking, smartwatch yang terlalu berat bisa terasa
kurang nyaman.
Karena
itu ukuran dan berat sebaiknya dilihat bersama-sama.
Perhatikan Notifikasi
Kalau salah satu
alasan membeli smartwatch adalah WhatsApp, pastikan kemampuan notifikasinya
sesuai kebutuhan.
Ada smartwatch yang
hanya menampilkan:
nama aplikasi,
nama pengirim,
dan sebagian pesan.
Ada perangkat yang
memungkinkan quick reply.
Ada juga smartwatch
dengan sistem operasi lengkap yang mendukung aplikasi tertentu.
Jangan menyamakan:
“bisa menerima
notifikasi WhatsApp”
dengan
“bisa
menggunakan WhatsApp sepenuhnya.”
Keduanya berbeda.
Voice Assistant
Bisa Berguna, tapi Tidak untuk Semua Orang
Beberapa
smartwatch mendukung voice assistant.
Kita
dapat memberikan perintah suara melalui jam selama sistem dan smartphone
mendukungnya.
Fitur
ini menarik.
Tetapi
saya tidak menjadikannya kebutuhan utama kalau jarang menggunakan asisten
suara.
Sekali
lagi, pilih fitur berdasarkan kebiasaan.
Bukan
hanya karena terlihat canggih.
Perhatikan Penyimpanan
Internal
Pada
smartwatch sederhana, penyimpanan internal biasanya tidak terlalu relevan.
Tetapi
pada smartwatch dengan sistem operasi lebih lengkap, penyimpanan dapat
digunakan untuk:
aplikasi,
musik,
watch
face,
dan data
lain.
Kalau
ingin berlari tanpa smartphone sambil mendengarkan musik dari jam, dukungan
penyimpanan musik menjadi penting.
Apakah Butuh eSIM?
Untuk smartwatch
pertama, menurut saya sebagian besar pengguna belum tentu membutuhkan eSIM.
Smartwatch Bluetooth
biasa sudah cukup untuk banyak kebutuhan.
eSIM mulai menarik
kalau kita ingin:
menelepon tanpa membawa
smartphone,
tetap mendapat koneksi
ketika HP ditinggalkan,
atau menggunakan
layanan tertentu secara mandiri.
Namun periksa juga
dukungan operator dan biaya layanan.
Jangan membeli fitur
yang akhirnya tidak bisa digunakan di wilayah kita.
Lihat Garansinya
Saya cukup menyarankan
memeriksa garansi sebelum membeli.
Terutama kalau
smartwatch akan digunakan setiap hari.
Cari tahu:
berapa lama garansi,
siapa yang menangani,
apa yang ditanggung,
dan bagaimana prosedur
klaim.
Untuk produk elektronik,
layanan setelah pembelian mempunyai nilai yang cukup besar.
Smartwatch murah dengan
garansi jelas kadang lebih menarik dibanding produk sedikit lebih murah tetapi
layanan purnajualnya tidak jelas.
Jangan Lupa Reputasi Penjual
Kalau
membeli melalui marketplace, perhatikan tokonya juga.
Lihat:
ulasan,
jumlah
penjualan,
kejelasan
garansi,
kondisi
produk,
dan layanan
setelah pembelian.
Harga yang
sangat murah memang menarik.
Tetapi
selisih sedikit bisa sepadan kalau mendapatkan penjual yang lebih jelas.
Apakah Harus Membeli
Brand Terkenal?
Tidak
selalu.
Banyak
brand kecil atau produk terjangkau yang menawarkan nilai bagus.
Tetapi
membeli dari brand yang lebih mapan biasanya memberikan beberapa keuntungan
seperti:
aplikasi
lebih matang,
update
lebih jelas,
aksesori
lebih mudah ditemukan,
dan
layanan lebih terstruktur.
Kalau
memilih brand baru atau kurang dikenal, saya hanya akan lebih teliti memeriksa
aplikasi dan garansinya.
Tentukan Budget dari Awal
Pasar
smartwatch sangat luas.
Kalau tidak
menentukan budget, kita bisa terus naik.
Awalnya ingin
membeli Rp300 ribuan.
Kemudian
melihat yang Rp500 ribuan.
Selisih
sedikit.
Naik lagi ke
Rp800 ribuan.
Kemudian satu
jutaan.
Akhirnya
bingung.
Saya lebih suka
menentukan rentang budget terlebih dahulu.
Misalnya:
Rp300–500
ribu.
Setelah itu
cari produk terbaik di rentang tersebut.
Cara ini
membuat proses memilih jauh lebih sederhana.
Jangan Membeli
Hanya karena Mirip Smartwatch Mahal
Banyak
smartwatch mempunyai desain yang terinspirasi produk populer.
Secara
visual memang menarik.
Tetapi
tampilan luar tidak selalu mencerminkan kualitas di dalam.
Yang
lebih penting tetap:
layar,
koneksi,
baterai,
sensor,
aplikasi,
dan
garansi.
Desain
boleh menjadi pertimbangan.
Tetapi
jangan sampai menjadi satu-satunya alasan.
Tidak Perlu
Mengejar Smartwatch dengan Fitur Terbanyak
Kalau
saya harus memberikan satu saran untuk orang yang baru pertama membeli
smartwatch, mungkin ini yang paling penting.
Jangan membeli berdasarkan jumlah fitur.
Cari
smartwatch yang melakukan hal-hal sederhana dengan baik.
Layar
nyaman.
Koneksi
stabil.
Notifikasi
masuk.
Baterai
sesuai kebutuhan.
Aplikasi
tidak membingungkan.
Strap
nyaman.
Kalau
fungsi dasar tersebut sudah bagus, pengalaman penggunaan biasanya jauh lebih
menyenangkan.
Checklist
Singkat Sebelum Membeli Smartwatch
Sebelum
klik tombol beli, saya biasanya akan memeriksa:
·
kompatibilitas dengan HP,
·
aplikasi pendamping,
·
ukuran casing,
·
ukuran layar,
·
jenis layar,
·
brightness,
·
daya tahan baterai,
·
Bluetooth Calling jika
dibutuhkan,
·
jenis GPS,
·
ketahanan air,
·
kualitas strap,
·
garansi,
·
dan reputasi penjual.
Setelah
itu baru melihat fitur tambahan.
Dengan
cara seperti ini, risiko membeli smartwatch yang ternyata tidak cocok menjadi
lebih kecil.
Kesimpulan
Membeli smartwatch pertama
tidak harus rumit.
Yang sering membuatnya terasa
sulit justru karena terlalu banyak pilihan dan terlalu banyak fitur yang
ditawarkan.
Mulailah dari kebutuhan.
Kalau tujuan utamanya untuk
melihat notifikasi dan aktivitas harian, pilih perangkat yang nyaman dan
stabil.
Kalau untuk olahraga outdoor,
perhatikan GPS dan baterai.
Kalau sering menerima
panggilan, Bluetooth Calling bisa menjadi prioritas.
Kalau mengutamakan tampilan,
layar AMOLED dan desain mungkin lebih menarik.
Dan kalau ingin digunakan
bertahun-tahun, aplikasi, garansi, strap, charger, serta dukungan perangkat
juga perlu dipikirkan.
Pada akhirnya, smartwatch
pertama yang bagus bukan yang mempunyai spesifikasi paling panjang.
Smartwatch yang bagus adalah
perangkat yang setelah beberapa minggu masih terasa berguna, bukan hanya
terlihat menarik pada hari pertama.
Jadi sebelum membeli, jangan
bertanya:
“Smartwatch mana yang punya
fitur paling banyak?”
Coba ubah menjadi:
“Smartwatch mana yang
fiturnya paling sesuai dengan cara saya menggunakannya?”
Menurut saya, pertanyaan itu jauh lebih membantu.

0 Komentar