Berapa Lama Baterai Smartwatch Bertahan? Ini yang Membuatnya Cepat Habis
Pernah merasa baterai smartwatch baru
terasa sangat awet pada beberapa hari pertama, tetapi setelah semua fiturnya
diaktifkan justru harus lebih sering diisi daya?
Hal seperti ini cukup sering terjadi. Saat
pertama mencoba smartwatch, biasanya kita penasaran dengan semuanya: layar
dibuat terang, Always-On Display dinyalakan, notifikasi dari hampir semua
aplikasi diaktifkan, detak jantung dipantau terus, Bluetooth Calling digunakan,
dan GPS ikut dicoba.
Lalu ketika baterainya turun lebih cepat
dari perkiraan, smartwatch langsung dianggap boros.
Padahal dari berbagai smartwatch yang
pernah kami gunakan, daya tahan baterai tidak hanya ditentukan oleh angka
kapasitas baterai. Cara kita menggunakan jam justru mempunyai pengaruh yang
sangat besar.
Karena itu, kalau sebuah smartwatch diklaim
dapat bertahan beberapa hari, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai
estimasi pada pola penggunaan tertentu, bukan janji bahwa semua pengguna akan
mendapatkan hasil yang persis sama.
Berapa Lama Baterai Smartwatch Biasanya Bertahan?
Jawabannya sangat tergantung pada jenis
smartwatch dan cara penggunaannya.
Ada smartwatch sederhana yang dapat
bertahan cukup lama karena sistemnya ringan dan fiturnya tidak terlalu banyak.
Ada pula smartwatch dengan layar terang, GPS, panggilan Bluetooth, dan berbagai
sensor yang memang membutuhkan energi lebih besar.
Karena itu, membandingkan daya tahan
baterai hanya dari jumlah hari sering kurang adil. Dua orang yang menggunakan
smartwatch yang sama pun bisa mendapatkan hasil berbeda.
Pengguna pertama mungkin hanya melihat
waktu, langkah, dan beberapa notifikasi. Pengguna kedua memakai GPS setiap
hari, menerima panggilan dari jam, mengaktifkan AOD, dan memantau kesehatan
sepanjang hari. Wajar jika baterainya tidak bertahan sama lama.
Kapasitas mAh Besar Belum Tentu Paling Awet
Ketika membaca spesifikasi smartwatch, kita
sering menemukan kapasitas baterai dalam satuan mAh.
Secara umum, kapasitas yang lebih besar
memang menyediakan cadangan energi lebih banyak. Tetapi angka mAh tidak bisa
digunakan sendirian untuk menentukan smartwatch mana yang paling awet.
Layar, chipset, sistem operasi, sensor,
kualitas optimasi perangkat lunak, kekuatan sinyal Bluetooth, dan pola
penggunaan ikut menentukan konsumsi daya.
Jadi smartwatch dengan baterai lebih kecil
tetapi sistem yang efisien bisa saja mempunyai waktu pakai yang sangat baik.
1. Always-On Display Bisa Menguras Baterai Lebih Cepat
Always-On Display atau AOD adalah salah
satu fitur yang paling terasa manfaatnya pada smartwatch AMOLED.
Kita cukup melirik pergelangan tangan dan
waktu tetap terlihat tanpa perlu menyentuh layar. Rasanya memang lebih mirip
jam tangan biasa.
Tetapi layar yang tetap aktif tentu
membutuhkan energi.
Kalau baterai terasa cepat habis, AOD
merupakan salah satu pengaturan pertama yang layak dicoba untuk dimatikan
selama beberapa hari. Dari situ kita bisa melihat seberapa besar pengaruhnya
pada smartwatch yang digunakan.
2. Kecerahan Layar Terlalu Tinggi
Layar merupakan salah satu komponen yang
cukup sering menggunakan daya.
Kalau kecerahan selalu berada pada tingkat
maksimum, baterai dapat berkurang lebih cepat, terutama pada smartwatch dengan
layar besar.
Kami biasanya menggunakan tingkat kecerahan
yang masih nyaman dibaca, bukan selalu paling terang. Saat berada di luar
ruangan barulah kecerahan dapat dinaikkan jika diperlukan.
Kalau smartwatch mempunyai auto brightness
yang bekerja baik, fitur tersebut juga dapat membantu menyesuaikan layar dengan
kondisi sekitar.
3. Raise to Wake Terlalu Sensitif
Fitur raise to wake membuat layar menyala
ketika kita mengangkat pergelangan tangan.
Praktis, tetapi pada beberapa smartwatch
pengaturannya cukup sensitif. Gerakan tangan ketika bekerja, mengemudi, atau
bahkan saat tidur bisa membuat layar berkali-kali menyala tanpa kita sadari.
Kalau layar smartwatch sering menyala
sendiri, coba periksa pengaturan raise to wake. Beberapa perangkat memungkinkan
fitur ini dijadwalkan hanya pada jam tertentu.
4. Terlalu Banyak Notifikasi
Pada awal menggunakan smartwatch, rasanya
menarik melihat semua notifikasi masuk ke pergelangan tangan.
WhatsApp, Instagram, marketplace, email,
aplikasi perbankan, game, hingga promosi semuanya ikut membuat jam bergetar.
Selain mengganggu, notifikasi yang terlalu
banyak juga membuat layar dan motor getar lebih sering bekerja.
Kami lebih suka memilih aplikasi yang
memang penting. Misalnya pesan, panggilan, dan beberapa aplikasi yang
benar-benar perlu diketahui segera. Smartwatch menjadi lebih tenang dan
baterainya juga tidak bekerja untuk notifikasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
5. Bluetooth Calling Memerlukan Daya Tambahan
Bluetooth Calling merupakan fitur yang
sangat praktis ketika tangan sedang sibuk atau smartphone tidak berada tepat di
tangan.
Tetapi menggunakan speaker dan mikrofon
smartwatch untuk melakukan panggilan tentu membutuhkan daya lebih besar
dibanding hanya menerima notifikasi.
Kalau sering melakukan panggilan panjang
melalui smartwatch, jangan heran kalau baterai turun lebih cepat.
Pada beberapa model, koneksi Bluetooth
untuk panggilan juga dapat dipisahkan dari koneksi utama aplikasi. Jika fitur
panggilan jarang digunakan, periksa apakah perangkat menyediakan opsi untuk
menonaktifkannya.
6. GPS Termasuk Fitur yang Cukup Boros
GPS bawaan merupakan fitur yang sangat
berguna untuk merekam rute lari, jalan kaki, atau bersepeda tanpa terlalu
bergantung pada smartphone.
Namun GPS juga membutuhkan energi.
Semakin lama aktivitas dengan GPS aktif,
semakin besar pengaruhnya terhadap baterai. Karena itu, jangan membandingkan
daya tahan baterai saat penggunaan biasa dengan hari ketika smartwatch
digunakan merekam olahraga berjam-jam.
Untuk pengguna yang rutin berolahraga
outdoor, informasi daya tahan baterai dalam mode GPS justru lebih berguna
daripada hanya angka pemakaian normal.
7. Pemantauan Kesehatan Sepanjang Hari
Smartwatch modern dapat melakukan berbagai
pemantauan seperti detak jantung, oksigen darah, stres, tidur, dan fitur
kesehatan lainnya tergantung model.
Semakin sering sensor melakukan pengukuran,
semakin banyak energi yang digunakan.
Kalau aplikasi memberikan pilihan interval
pemantauan, sesuaikan dengan kebutuhan. Tidak semua fitur harus selalu berada
pada pengaturan paling intensif.
Perlu diingat juga bahwa fitur kesehatan
pada smartwatch konsumen umumnya ditujukan untuk pemantauan kebugaran dan bukan
pengganti pemeriksaan medis.
8. Watch Face Juga Bisa Berpengaruh
Watch face terlihat seperti hal kecil,
tetapi desainnya dapat memengaruhi konsumsi daya.
Pada layar AMOLED, watch face dengan banyak
area hitam biasanya cocok karena piksel pada area gelap dapat dimatikan.
Sebaliknya, watch face yang sangat terang,
penuh animasi, atau terus memperbarui banyak informasi dapat membutuhkan daya
lebih banyak.
Kalau ingin baterai lebih hemat, kami
biasanya memilih watch face yang sederhana: waktu, tanggal, baterai, dan
beberapa informasi yang memang sering dilihat.
9. Baterai Lebih Cepat Habis Setelah Update
Kadang baterai terasa berbeda setelah pembaruan
firmware atau aplikasi.
Hal ini belum tentu berarti baterai
langsung rusak. Bisa saja ada perubahan pengaturan, proses sinkronisasi, bug,
atau fitur baru yang aktif.
Jika masalah muncul tepat setelah update,
periksa kembali pengaturan perangkat dan lihat apakah tersedia pembaruan
lanjutan dari produsen.
Restart smartwatch dan smartphone juga
dapat dicoba sebelum mengambil langkah yang lebih jauh.
10. Koneksi yang Tidak Stabil Bisa Ikut Berpengaruh
Smartwatch yang terus berusaha menyambung
kembali ke smartphone dapat bekerja lebih keras daripada koneksi yang stabil.
Kalau jam sering disconnect dan reconnect,
periksa aplikasi pendamping, izin aktivitas latar belakang, Bluetooth, dan
pengaturan penghemat baterai pada smartphone.
Masalah ini juga sudah kami bahas pada
artikel sebelumnya mengenai smartwatch yang tidak bisa terhubung ke HP.
Selain membuat pengalaman penggunaan kurang
nyaman, koneksi yang tidak stabil dapat membuat kita lebih sering membuka
aplikasi dan layar smartwatch.
Mengapa Baterai Smartwatch Baru Terasa Boros?
Pada beberapa hari pertama, kita biasanya
jauh lebih sering memainkan smartwatch dibanding setelah terbiasa.
Watch face diganti berkali-kali. Menu
dibuka satu per satu. Sensor dicoba. Speaker dites. Panggilan dilakukan.
Kecerahan dinaikkan. AOD dinyalakan.
Jadi jangan langsung menilai baterai hanya
dari hari pertama.
Gunakan smartwatch beberapa siklus
pengisian dengan pola penggunaan yang lebih normal. Setelah itu barulah kita
mendapatkan gambaran yang lebih masuk akal mengenai daya tahannya.
Apakah Smartwatch Harus Di-charge Sampai 100%?
Untuk penggunaan sehari-hari, yang paling
penting adalah mengikuti petunjuk pengisian dari produsen dan menggunakan
charger atau kabel yang sesuai.
Tidak perlu terlalu cemas mengejar angka
tertentu setiap saat. Kebiasaan yang lebih penting justru menghindari suhu
berlebihan, menjaga kontak charger tetap bersih dan kering, serta tidak
menggunakan aksesori pengisian yang tidak sesuai.
Kalau smartwatch baru saja terkena air,
pastikan bagian pengisian benar-benar kering sebelum ditempelkan ke charger.
Bolehkah Smartwatch Di-charge Semalaman?
Banyak perangkat modern mempunyai sistem
pengelolaan pengisian, tetapi kebijakan dan desain setiap smartwatch berbeda.
Daripada menjadikan charging semalaman
sebagai kebiasaan tanpa mengetahui perangkatnya, kami lebih suka mengisi daya
ketika masih bisa diawasi dan melepaskannya setelah cukup.
Yang lebih penting, jangan mengisi
smartwatch di tempat yang sangat panas, tertutup rapat, atau menggunakan
charger yang tidak sesuai spesifikasi.
Kapan Baterai Smartwatch Mulai Menurun?
Semua baterai isi ulang mengalami penuaan
seiring waktu dan siklus penggunaan.
Setelah digunakan cukup lama, smartwatch
yang dahulu mampu bertahan beberapa hari mungkin mulai membutuhkan pengisian
lebih sering.
Penurunan kecil merupakan hal yang wajar.
Tetapi jika baterai tiba-tiba turun sangat cepat, perangkat panas tidak normal,
mati mendadak, atau baterai terlihat menggelembung, hentikan penggunaan dan
periksa perangkat melalui layanan yang sesuai.
Jangan membongkar baterai smartwatch
sendiri jika tidak mempunyai keahlian dan peralatan yang tepat.
Cara Membuat Baterai Smartwatch Lebih Awet Sehari-hari
Kalau ingin memperpanjang waktu penggunaan
tanpa terlalu mengorbankan fungsi, kami biasanya memulai dari pengaturan yang
paling terasa.
Matikan AOD jika tidak dibutuhkan. Gunakan
kecerahan secukupnya. Pilih notifikasi penting saja. Atur raise to wake agar
tidak terlalu sering aktif. Gunakan GPS ketika memang diperlukan. Kurangi
panggilan panjang melalui jam jika baterai sedang rendah. Pilih interval
pemantauan sensor sesuai kebutuhan.
Tujuannya bukan mematikan semua fitur.
Kalau semua fungsi smartwatch dimatikan
demi mengejar baterai paling lama, kita justru kehilangan alasan membeli
smartwatch.
Yang lebih masuk akal adalah mencari
keseimbangan antara fitur yang benar-benar berguna dan daya tahan yang nyaman.
Jangan Terlalu Percaya Angka Baterai di Iklan
Ketika sebuah produk menyebut baterai dapat
bertahan sekian hari, baca juga kondisi pengujiannya jika tersedia.
Angka tersebut biasanya diperoleh
menggunakan skenario penggunaan tertentu.
Penggunaan nyata dapat lebih lama atau
lebih pendek.
Karena itu, kami lebih suka melihat klaim
baterai sebagai gambaran awal, kemudian mempertimbangkan fitur yang akan
benar-benar digunakan setiap hari.
Kesimpulan
Berapa lama baterai smartwatch bertahan
tidak mempunyai satu jawaban yang berlaku untuk semua perangkat.
Kapasitas baterai memang penting, tetapi
layar, AOD, GPS, Bluetooth Calling, sensor, notifikasi, watch face, kualitas
koneksi, dan kebiasaan pengguna mempunyai pengaruh yang sangat besar.
Kalau smartwatch terasa boros, jangan
langsung menyimpulkan baterainya rusak.
Periksa dahulu fitur yang aktif dan
bandingkan daya tahannya setelah beberapa hari penggunaan normal.
Dari pengalaman menggunakan smartwatch,
kami justru merasa baterai yang ideal bukan selalu yang mampu mencetak angka
hari paling panjang.
Yang lebih penting adalah smartwatch dapat
menjalankan fitur yang kita butuhkan sepanjang aktivitas sehari-hari tanpa
membuat kita terus-menerus memikirkan charger.
Pada akhirnya, baterai terbaik adalah
baterai yang sesuai dengan cara kita memakai smartwatch.

0 Komentar