GUM0GfM5TSr5GUYiBUd7TUCpTA==
0
    0
      Breaking News

      Berapa Lama Baterai Smartwatch Bertahan? Penyebab Cepat Habis

      Baterai smartwatch cepat habis? Pelajari berapa lama baterai smartwatch biasanya bertahan serta pengaruh AOD, GPS, Bluetooth Calling, layar, sensor

       


      Berapa Lama Baterai Smartwatch Bertahan? Ini yang Membuatnya Cepat Habis

      Pernah merasa baterai smartwatch baru terasa sangat awet pada beberapa hari pertama, tetapi setelah semua fiturnya diaktifkan justru harus lebih sering diisi daya?

      Hal seperti ini cukup sering terjadi. Saat pertama mencoba smartwatch, biasanya kita penasaran dengan semuanya: layar dibuat terang, Always-On Display dinyalakan, notifikasi dari hampir semua aplikasi diaktifkan, detak jantung dipantau terus, Bluetooth Calling digunakan, dan GPS ikut dicoba.

      Lalu ketika baterainya turun lebih cepat dari perkiraan, smartwatch langsung dianggap boros.

      Padahal dari berbagai smartwatch yang pernah kami gunakan, daya tahan baterai tidak hanya ditentukan oleh angka kapasitas baterai. Cara kita menggunakan jam justru mempunyai pengaruh yang sangat besar.

      Karena itu, kalau sebuah smartwatch diklaim dapat bertahan beberapa hari, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai estimasi pada pola penggunaan tertentu, bukan janji bahwa semua pengguna akan mendapatkan hasil yang persis sama.

      Berapa Lama Baterai Smartwatch Biasanya Bertahan?

      Jawabannya sangat tergantung pada jenis smartwatch dan cara penggunaannya.

      Ada smartwatch sederhana yang dapat bertahan cukup lama karena sistemnya ringan dan fiturnya tidak terlalu banyak. Ada pula smartwatch dengan layar terang, GPS, panggilan Bluetooth, dan berbagai sensor yang memang membutuhkan energi lebih besar.

      Karena itu, membandingkan daya tahan baterai hanya dari jumlah hari sering kurang adil. Dua orang yang menggunakan smartwatch yang sama pun bisa mendapatkan hasil berbeda.

      Pengguna pertama mungkin hanya melihat waktu, langkah, dan beberapa notifikasi. Pengguna kedua memakai GPS setiap hari, menerima panggilan dari jam, mengaktifkan AOD, dan memantau kesehatan sepanjang hari. Wajar jika baterainya tidak bertahan sama lama.

      Kapasitas mAh Besar Belum Tentu Paling Awet

      Ketika membaca spesifikasi smartwatch, kita sering menemukan kapasitas baterai dalam satuan mAh.

      Secara umum, kapasitas yang lebih besar memang menyediakan cadangan energi lebih banyak. Tetapi angka mAh tidak bisa digunakan sendirian untuk menentukan smartwatch mana yang paling awet.

      Layar, chipset, sistem operasi, sensor, kualitas optimasi perangkat lunak, kekuatan sinyal Bluetooth, dan pola penggunaan ikut menentukan konsumsi daya.

      Jadi smartwatch dengan baterai lebih kecil tetapi sistem yang efisien bisa saja mempunyai waktu pakai yang sangat baik.

      1. Always-On Display Bisa Menguras Baterai Lebih Cepat

      Always-On Display atau AOD adalah salah satu fitur yang paling terasa manfaatnya pada smartwatch AMOLED.

      Kita cukup melirik pergelangan tangan dan waktu tetap terlihat tanpa perlu menyentuh layar. Rasanya memang lebih mirip jam tangan biasa.

      Tetapi layar yang tetap aktif tentu membutuhkan energi.

      Kalau baterai terasa cepat habis, AOD merupakan salah satu pengaturan pertama yang layak dicoba untuk dimatikan selama beberapa hari. Dari situ kita bisa melihat seberapa besar pengaruhnya pada smartwatch yang digunakan.

      2. Kecerahan Layar Terlalu Tinggi

      Layar merupakan salah satu komponen yang cukup sering menggunakan daya.

      Kalau kecerahan selalu berada pada tingkat maksimum, baterai dapat berkurang lebih cepat, terutama pada smartwatch dengan layar besar.

      Kami biasanya menggunakan tingkat kecerahan yang masih nyaman dibaca, bukan selalu paling terang. Saat berada di luar ruangan barulah kecerahan dapat dinaikkan jika diperlukan.

      Kalau smartwatch mempunyai auto brightness yang bekerja baik, fitur tersebut juga dapat membantu menyesuaikan layar dengan kondisi sekitar.

      3. Raise to Wake Terlalu Sensitif

      Fitur raise to wake membuat layar menyala ketika kita mengangkat pergelangan tangan.

      Praktis, tetapi pada beberapa smartwatch pengaturannya cukup sensitif. Gerakan tangan ketika bekerja, mengemudi, atau bahkan saat tidur bisa membuat layar berkali-kali menyala tanpa kita sadari.

      Kalau layar smartwatch sering menyala sendiri, coba periksa pengaturan raise to wake. Beberapa perangkat memungkinkan fitur ini dijadwalkan hanya pada jam tertentu.

      4. Terlalu Banyak Notifikasi

      Pada awal menggunakan smartwatch, rasanya menarik melihat semua notifikasi masuk ke pergelangan tangan.

      WhatsApp, Instagram, marketplace, email, aplikasi perbankan, game, hingga promosi semuanya ikut membuat jam bergetar.

      Selain mengganggu, notifikasi yang terlalu banyak juga membuat layar dan motor getar lebih sering bekerja.

      Kami lebih suka memilih aplikasi yang memang penting. Misalnya pesan, panggilan, dan beberapa aplikasi yang benar-benar perlu diketahui segera. Smartwatch menjadi lebih tenang dan baterainya juga tidak bekerja untuk notifikasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

      5. Bluetooth Calling Memerlukan Daya Tambahan

      Bluetooth Calling merupakan fitur yang sangat praktis ketika tangan sedang sibuk atau smartphone tidak berada tepat di tangan.

      Tetapi menggunakan speaker dan mikrofon smartwatch untuk melakukan panggilan tentu membutuhkan daya lebih besar dibanding hanya menerima notifikasi.

      Kalau sering melakukan panggilan panjang melalui smartwatch, jangan heran kalau baterai turun lebih cepat.

      Pada beberapa model, koneksi Bluetooth untuk panggilan juga dapat dipisahkan dari koneksi utama aplikasi. Jika fitur panggilan jarang digunakan, periksa apakah perangkat menyediakan opsi untuk menonaktifkannya.

      6. GPS Termasuk Fitur yang Cukup Boros

      GPS bawaan merupakan fitur yang sangat berguna untuk merekam rute lari, jalan kaki, atau bersepeda tanpa terlalu bergantung pada smartphone.

      Namun GPS juga membutuhkan energi.

      Semakin lama aktivitas dengan GPS aktif, semakin besar pengaruhnya terhadap baterai. Karena itu, jangan membandingkan daya tahan baterai saat penggunaan biasa dengan hari ketika smartwatch digunakan merekam olahraga berjam-jam.

      Untuk pengguna yang rutin berolahraga outdoor, informasi daya tahan baterai dalam mode GPS justru lebih berguna daripada hanya angka pemakaian normal.

      7. Pemantauan Kesehatan Sepanjang Hari

      Smartwatch modern dapat melakukan berbagai pemantauan seperti detak jantung, oksigen darah, stres, tidur, dan fitur kesehatan lainnya tergantung model.

      Semakin sering sensor melakukan pengukuran, semakin banyak energi yang digunakan.

      Kalau aplikasi memberikan pilihan interval pemantauan, sesuaikan dengan kebutuhan. Tidak semua fitur harus selalu berada pada pengaturan paling intensif.

      Perlu diingat juga bahwa fitur kesehatan pada smartwatch konsumen umumnya ditujukan untuk pemantauan kebugaran dan bukan pengganti pemeriksaan medis.

      8. Watch Face Juga Bisa Berpengaruh

      Watch face terlihat seperti hal kecil, tetapi desainnya dapat memengaruhi konsumsi daya.

      Pada layar AMOLED, watch face dengan banyak area hitam biasanya cocok karena piksel pada area gelap dapat dimatikan.

      Sebaliknya, watch face yang sangat terang, penuh animasi, atau terus memperbarui banyak informasi dapat membutuhkan daya lebih banyak.

      Kalau ingin baterai lebih hemat, kami biasanya memilih watch face yang sederhana: waktu, tanggal, baterai, dan beberapa informasi yang memang sering dilihat.

      9. Baterai Lebih Cepat Habis Setelah Update

      Kadang baterai terasa berbeda setelah pembaruan firmware atau aplikasi.

      Hal ini belum tentu berarti baterai langsung rusak. Bisa saja ada perubahan pengaturan, proses sinkronisasi, bug, atau fitur baru yang aktif.

      Jika masalah muncul tepat setelah update, periksa kembali pengaturan perangkat dan lihat apakah tersedia pembaruan lanjutan dari produsen.

      Restart smartwatch dan smartphone juga dapat dicoba sebelum mengambil langkah yang lebih jauh.

      10. Koneksi yang Tidak Stabil Bisa Ikut Berpengaruh

      Smartwatch yang terus berusaha menyambung kembali ke smartphone dapat bekerja lebih keras daripada koneksi yang stabil.

      Kalau jam sering disconnect dan reconnect, periksa aplikasi pendamping, izin aktivitas latar belakang, Bluetooth, dan pengaturan penghemat baterai pada smartphone.

      Masalah ini juga sudah kami bahas pada artikel sebelumnya mengenai smartwatch yang tidak bisa terhubung ke HP.

      Selain membuat pengalaman penggunaan kurang nyaman, koneksi yang tidak stabil dapat membuat kita lebih sering membuka aplikasi dan layar smartwatch.

      Mengapa Baterai Smartwatch Baru Terasa Boros?

      Pada beberapa hari pertama, kita biasanya jauh lebih sering memainkan smartwatch dibanding setelah terbiasa.

      Watch face diganti berkali-kali. Menu dibuka satu per satu. Sensor dicoba. Speaker dites. Panggilan dilakukan. Kecerahan dinaikkan. AOD dinyalakan.

      Jadi jangan langsung menilai baterai hanya dari hari pertama.

      Gunakan smartwatch beberapa siklus pengisian dengan pola penggunaan yang lebih normal. Setelah itu barulah kita mendapatkan gambaran yang lebih masuk akal mengenai daya tahannya.

      Apakah Smartwatch Harus Di-charge Sampai 100%?

      Untuk penggunaan sehari-hari, yang paling penting adalah mengikuti petunjuk pengisian dari produsen dan menggunakan charger atau kabel yang sesuai.

      Tidak perlu terlalu cemas mengejar angka tertentu setiap saat. Kebiasaan yang lebih penting justru menghindari suhu berlebihan, menjaga kontak charger tetap bersih dan kering, serta tidak menggunakan aksesori pengisian yang tidak sesuai.

      Kalau smartwatch baru saja terkena air, pastikan bagian pengisian benar-benar kering sebelum ditempelkan ke charger.

      Bolehkah Smartwatch Di-charge Semalaman?

      Banyak perangkat modern mempunyai sistem pengelolaan pengisian, tetapi kebijakan dan desain setiap smartwatch berbeda.

      Daripada menjadikan charging semalaman sebagai kebiasaan tanpa mengetahui perangkatnya, kami lebih suka mengisi daya ketika masih bisa diawasi dan melepaskannya setelah cukup.

      Yang lebih penting, jangan mengisi smartwatch di tempat yang sangat panas, tertutup rapat, atau menggunakan charger yang tidak sesuai spesifikasi.

      Kapan Baterai Smartwatch Mulai Menurun?

      Semua baterai isi ulang mengalami penuaan seiring waktu dan siklus penggunaan.

      Setelah digunakan cukup lama, smartwatch yang dahulu mampu bertahan beberapa hari mungkin mulai membutuhkan pengisian lebih sering.

      Penurunan kecil merupakan hal yang wajar. Tetapi jika baterai tiba-tiba turun sangat cepat, perangkat panas tidak normal, mati mendadak, atau baterai terlihat menggelembung, hentikan penggunaan dan periksa perangkat melalui layanan yang sesuai.

      Jangan membongkar baterai smartwatch sendiri jika tidak mempunyai keahlian dan peralatan yang tepat.

      Cara Membuat Baterai Smartwatch Lebih Awet Sehari-hari

      Kalau ingin memperpanjang waktu penggunaan tanpa terlalu mengorbankan fungsi, kami biasanya memulai dari pengaturan yang paling terasa.

      Matikan AOD jika tidak dibutuhkan. Gunakan kecerahan secukupnya. Pilih notifikasi penting saja. Atur raise to wake agar tidak terlalu sering aktif. Gunakan GPS ketika memang diperlukan. Kurangi panggilan panjang melalui jam jika baterai sedang rendah. Pilih interval pemantauan sensor sesuai kebutuhan.

      Tujuannya bukan mematikan semua fitur.

      Kalau semua fungsi smartwatch dimatikan demi mengejar baterai paling lama, kita justru kehilangan alasan membeli smartwatch.

      Yang lebih masuk akal adalah mencari keseimbangan antara fitur yang benar-benar berguna dan daya tahan yang nyaman.

      Jangan Terlalu Percaya Angka Baterai di Iklan

      Ketika sebuah produk menyebut baterai dapat bertahan sekian hari, baca juga kondisi pengujiannya jika tersedia.

      Angka tersebut biasanya diperoleh menggunakan skenario penggunaan tertentu.

      Penggunaan nyata dapat lebih lama atau lebih pendek.

      Karena itu, kami lebih suka melihat klaim baterai sebagai gambaran awal, kemudian mempertimbangkan fitur yang akan benar-benar digunakan setiap hari.

      Kesimpulan

      Berapa lama baterai smartwatch bertahan tidak mempunyai satu jawaban yang berlaku untuk semua perangkat.

      Kapasitas baterai memang penting, tetapi layar, AOD, GPS, Bluetooth Calling, sensor, notifikasi, watch face, kualitas koneksi, dan kebiasaan pengguna mempunyai pengaruh yang sangat besar.

      Kalau smartwatch terasa boros, jangan langsung menyimpulkan baterainya rusak.

      Periksa dahulu fitur yang aktif dan bandingkan daya tahannya setelah beberapa hari penggunaan normal.

      Dari pengalaman menggunakan smartwatch, kami justru merasa baterai yang ideal bukan selalu yang mampu mencetak angka hari paling panjang.

      Yang lebih penting adalah smartwatch dapat menjalankan fitur yang kita butuhkan sepanjang aktivitas sehari-hari tanpa membuat kita terus-menerus memikirkan charger.

      Pada akhirnya, baterai terbaik adalah baterai yang sesuai dengan cara kita memakai smartwatch.

       

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • 59 Street, 06 Lane, Newyork
      • +0123456789
      • info@domainku.com