Kenapa
Baterai Smartwatch Cepat Habis? Ini Penyebab yang Sering Tidak Disadari
Salah satu hal yang paling saya perhatikan ketika mencoba smartwatch
baru bukan hanya layar atau banyaknya fitur.
Saya justru sering penasaran dengan satu hal sederhana:
Baterainya benar-benar tahan berapa lama?
Di kotak atau halaman produk, kita bisa menemukan klaim seperti:
“Baterai hingga 7 hari.”
“Tahan hingga 10 hari.”
Bahkan ada smartwatch yang mengklaim mampu digunakan selama beberapa
minggu.
Masalahnya, setelah dipakai sehari-hari, hasilnya kadang berbeda.
Ada yang memang mendekati klaim.
Ada yang lebih pendek.
Ada juga yang pada hari pertama terasa sangat boros, tetapi setelah
beberapa pengaturan diubah ternyata baterainya bisa bertahan jauh lebih lama.
Saya pernah mengalami kondisi seperti ini.
Smartwatch baru selesai di-charge 100 persen pada pagi hari. Belum
sampai malam, baterainya sudah turun cukup banyak.
Awalnya saya berpikir baterainya bermasalah.
Setelah diperiksa, ternyata Always-On Display aktif, brightness
cukup tinggi, pemantauan kesehatan berjalan terus, dan hampir semua aplikasi di
HP mengirim notifikasi ke jam.
Setelah beberapa fitur disesuaikan, daya tahannya berubah cukup
terasa.
Jadi kalau smartwatch terasa boros, jangan langsung menyimpulkan
baterainya rusak.
Ada banyak hal lain yang perlu diperiksa.
Klaim Baterai
Smartwatch Bukan Angka Mutlak
Ini
yang menurut saya harus dipahami sejak awal.
Ketika
produsen menuliskan:
“Up to 10 days”
kata
yang perlu diperhatikan adalah “up to” atau hingga.
Angka
tersebut biasanya diperoleh berdasarkan skenario penggunaan tertentu yang
ditetapkan produsen.
Penggunaan
kita bisa berbeda.
Misalnya
saya menerima puluhan notifikasi WhatsApp setiap hari.
Orang
lain hanya menerima beberapa.
Saya
mungkin menggunakan GPS selama satu jam.
Orang
lain tidak pernah mengaktifkan GPS.
Saya
menggunakan Always-On Display.
Orang
lain mematikannya.
Tentu
daya tahan baterainya tidak akan sama.
Karena
itu, ketika membaca klaim baterai, saya menganggapnya sebagai gambaran
kemampuan, bukan janji bahwa setiap pengguna pasti mendapatkan angka
tersebut.
1. Always-On
Display Bisa Menguras Baterai Lebih Cepat
Kalau
smartwatch menggunakan layar AMOLED, salah satu fitur yang paling menarik
adalah Always-On Display atau AOD.
Saya
sendiri menyukai fitur ini.
Jam
tetap terlihat seperti jam meskipun kita tidak mengangkat pergelangan tangan.
Sekilas
melihat tangan, waktu langsung terlihat.
Masalahnya,
layar tetap harus bekerja.
Memang
tampilan AOD biasanya dibuat sederhana dan banyak menggunakan area hitam,
tetapi tetap membutuhkan energi.
Pada
beberapa smartwatch, perbedaan daya tahan antara AOD aktif dan nonaktif bisa
cukup terasa.
Kalau
baterai terasa terlalu cepat turun, AOD menjadi salah satu fitur pertama yang
saya periksa.
2. Brightness Terlalu Tinggi
Smartwatch
digunakan di pergelangan tangan sehingga layar harus cukup terang agar mudah
dibaca.
Terutama ketika
berada di luar ruangan.
Tetapi
menggunakan brightness maksimum sepanjang waktu tidak selalu diperlukan.
Kalau
smartwatch mempunyai auto brightness, saya biasanya memanfaatkannya.
Kalau tidak
ada, brightness bisa disesuaikan secara manual.
Di dalam
ruangan, tingkat kecerahan sedang biasanya sudah cukup nyaman.
Ketika berada
di luar ruangan, barulah brightness dinaikkan jika diperlukan.
Kebiasaan
sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi penggunaan daya layar.
3. Raise to Wake Terlalu
Sensitif
Fitur Raise
to Wake membuat layar menyala ketika kita mengangkat pergelangan tangan.
Praktis
sekali.
Masalahnya,
smartwatch tidak selalu bisa membedakan apakah kita benar-benar ingin melihat
jam atau hanya sedang menggerakkan tangan.
Sedang
menyetir.
Sedang
bekerja.
Mengangkat
barang.
Berbicara
sambil menggerakkan tangan.
Layar bisa
menyala berkali-kali tanpa kita sadari.
Kalau
sensitivitasnya dapat diatur, saya biasanya menyesuaikannya.
Beberapa
smartwatch juga memungkinkan kita mengatur jadwal Raise to Wake agar tidak
aktif ketika tidur.
4. Terlalu Banyak Notifikasi
Ini salah satu
penyebab yang sering diremehkan.
Setiap
notifikasi masuk, smartwatch mungkin:
menyalakan
layar,
mengaktifkan
motor getar,
menggunakan
Bluetooth,
dan menampilkan
informasi.
Kalau hanya
sepuluh notifikasi sehari, mungkin tidak terasa.
Tetapi
bagaimana kalau ratusan?
WhatsApp.
Grup sekolah.
Marketplace.
Instagram.
TikTok.
Email.
Game.
Promo.
Bank.
Setiap beberapa
menit smartwatch bergetar.
Selain
mengganggu, aktivitas tersebut juga membutuhkan daya.
Saya sekarang
hanya mengaktifkan notifikasi yang benar-benar ingin saya lihat di pergelangan
tangan.
5. Bluetooth
Calling Bisa Membutuhkan Daya Lebih Besar
Smartwatch
dengan Bluetooth Calling biasanya menggunakan koneksi audio tambahan untuk
menangani panggilan.
Ketika
fitur ini aktif dan sering digunakan, konsumsi baterai tentu dapat meningkat.
Apalagi
kalau kita sering menerima telepon melalui smartwatch.
Speaker
menyala.
Mikrofon
aktif.
Koneksi
Bluetooth digunakan.
Semua
membutuhkan energi.
Kalau
jarang menggunakan Bluetooth Calling, pada beberapa perangkat koneksi audio
dapat dinonaktifkan tanpa memutus sinkronisasi utama smartwatch.
Tetapi
caranya berbeda pada setiap model, jadi ikuti pengaturan yang tersedia pada
perangkat.
6. GPS Merupakan
Salah Satu Fitur yang Cukup Berat
Kalau
smartwatch mempunyai built-in GPS, penggunaan GPS secara terus-menerus ketika
olahraga membutuhkan daya yang tidak sedikit.
Ini
sangat terasa pada aktivitas panjang.
Jogging
30 menit mungkin tidak terlalu menjadi masalah.
Tetapi
hiking menggunakan GPS selama beberapa jam tentu berbeda.
Karena
itu saya selalu membedakan dua klaim baterai:
daya tahan penggunaan normal
dan
daya tahan dengan GPS aktif.
Untuk
pengguna outdoor, angka kedua justru jauh lebih penting.
7. Pemantauan Detak
Jantung 24 Jam
Banyak
smartwatch menawarkan 24-hour heart rate monitoring.
Sensor
akan melakukan pembacaan secara berkala atau terus-menerus sesuai pengaturan
perangkat.
Semakin
sering sensor bekerja, semakin banyak energi yang digunakan.
Apakah
harus dimatikan?
Tidak
selalu.
Kalau
memang membutuhkan data tersebut, gunakan.
Tetapi
beberapa smartwatch memungkinkan kita mengatur interval pemantauan.
Misalnya
pengukuran lebih jarang dibanding pengukuran terus-menerus.
Pilih
sesuai kebutuhan.
8. SpO2
Sepanjang Hari Juga Bisa Berpengaruh
Hal
yang sama berlaku untuk pemantauan SpO2 otomatis.
Pengukuran
sensor membutuhkan energi.
Kalau
smartwatch melakukan pemantauan kesehatan sepanjang hari dan malam, baterainya
tentu bekerja lebih banyak dibanding perangkat yang hanya mengukur ketika kita
menekan tombol.
Saya
sendiri lebih memilih mengaktifkan fitur yang memang ingin digunakan.
Bukan
mengaktifkan semuanya hanya karena tersedia.
9. Pemantauan
Tidur Membutuhkan Smartwatch Tetap Aktif
Ketika
tidur, smartwatch tidak benar-benar berhenti bekerja.
Perangkat
masih dapat membaca:
gerakan,
detak
jantung,
dan
data lain sesuai kemampuan perangkat.
Karena
itu baterai tetap berkurang semalaman.
Pada
beberapa smartwatch penurunannya kecil.
Pada
perangkat lain bisa lebih terasa, terutama kalau banyak fitur pemantauan malam
hari diaktifkan.
Kalau
ingin menggunakan sleep tracking, saya biasanya memastikan baterai masih cukup
sebelum tidur.
10. Watch Face
Bisa Mempengaruhi Konsumsi Daya
Ini
cukup menarik.
Watch
face terlihat seperti kosmetik saja.
Tetapi
desain watch face dapat memengaruhi bagaimana layar bekerja.
Watch
face dengan banyak animasi atau informasi yang terus diperbarui bisa
menggunakan sumber daya lebih besar dibanding tampilan sederhana.
Pada
AMOLED, watch face dengan banyak area hitam juga mempunyai karakter konsumsi
daya yang berbeda dibanding tampilan sangat terang.
Kalau
sedang mencoba memperpanjang baterai, saya biasanya menggunakan watch face
sederhana terlebih dahulu.
11. Animasi dan Refresh Rate
Smartwatch
dengan animasi sangat halus memang terasa menyenangkan.
Swipe terlihat
mulus.
Transisi terasa
premium.
Tetapi performa
grafis juga membutuhkan daya.
Beberapa
smartwatch menyediakan pengaturan tertentu yang dapat memengaruhi performa atau
refresh rate.
Namun pada
banyak perangkat, pengguna tidak perlu mengaturnya secara manual.
Yang perlu
dipahami hanya satu:
pengalaman
visual yang lebih aktif biasanya mempunyai konsekuensi terhadap penggunaan
energi.
12. Koneksi yang
Tidak Stabil Bisa Membuat Baterai Boros
Ini
salah satu penyebab yang tidak terlalu terlihat.
Smartwatch
kehilangan koneksi.
Kemudian
mencoba reconnect.
Putus
lagi.
Reconnect
lagi.
Proses
tersebut dapat terjadi berulang kali.
Kalau
Bluetooth antara HP dan smartwatch tidak stabil, baterai bisa digunakan untuk
terus mencoba mempertahankan koneksi.
Kalau
baterai tiba-tiba lebih boros bersamaan dengan masalah sinkronisasi, saya
biasanya memeriksa koneksi dan aplikasi pendamping.
13. Jarak Smartphone
Terlalu Jauh
Bluetooth
mempunyai batas jangkauan.
Kalau kita
sering berada di batas jangkauan antara smartphone dan smartwatch, koneksi
dapat putus-sambung.
Misalnya HP
ditinggalkan di kamar.
Kita
berjalan ke halaman.
Masuk lagi.
Keluar
lagi.
Smartwatch
berkali-kali kehilangan dan mendapatkan koneksi.
Pada
penggunaan tertentu, kondisi seperti ini dapat menambah aktivitas komunikasi
perangkat.
14. Aplikasi atau
Firmware Bermasalah
Kadang
baterai tiba-tiba boros setelah update.
Sebelumnya
normal.
Setelah
pembaruan, daya tahan turun drastis.
Hal
seperti ini bisa berkaitan dengan bug software.
Sebaliknya,
firmware update juga bisa memperbaiki masalah baterai.
Kalau
terjadi perubahan daya tahan yang sangat besar tanpa perubahan kebiasaan
penggunaan, saya biasanya memeriksa:
apakah
baru ada update,
apakah
aplikasi pendamping berubah,
dan
apakah ada pengguna lain yang mengalami masalah serupa.
15. Smartwatch
Baru Kadang Terasa Lebih Boros di Hari Pertama
Ketika
smartwatch baru pertama digunakan, kita biasanya melakukan banyak hal.
Download
watch face.
Mengatur
menu.
Mencoba
speaker.
Menelepon.
Mengukur
SpO2 berkali-kali.
Menyalakan
GPS.
Mengubah
brightness.
Membuka
hampir setiap fitur.
Jadi
jangan langsung menilai baterai hanya berdasarkan hari pertama.
Saya
biasanya menggunakan smartwatch beberapa siklus pemakaian terlebih dahulu.
Setelah
pola penggunaan menjadi normal, barulah daya tahan baterainya lebih mudah
dinilai.
16. Suhu Lingkungan Bisa
Berpengaruh
Baterai
lithium mempunyai karakteristik yang dipengaruhi suhu.
Suhu
yang sangat panas maupun kondisi ekstrem lainnya tidak ideal untuk perangkat.
Smartwatch
sendiri berada dekat dengan kulit sehingga biasanya bekerja pada kondisi yang
relatif stabil.
Tetapi
jangan meninggalkannya di tempat yang sangat panas.
Misalnya
di dashboard mobil yang terkena matahari.
Selain
memengaruhi baterai, panas berlebihan juga tidak baik untuk komponen
elektronik.
17. Baterai Memang Akan Menua
Kalau
smartwatch sudah digunakan dua atau tiga tahun kemudian daya tahannya tidak
lagi seperti baru, itu belum tentu berarti ada kerusakan mendadak.
Baterai isi
ulang mengalami penuaan.
Kapasitas
efektifnya perlahan menurun.
Jadi kita perlu
membedakan:
baterai
boros karena pengaturan
dengan
baterai
menurun karena usia.
Kalau
smartwatch baru tiba-tiba hanya bertahan beberapa jam, tentu perlu diperiksa.
Tetapi kalau
penurunannya terjadi perlahan setelah penggunaan bertahun-tahun, penuaan
baterai merupakan kemungkinan yang wajar.
18. Kapasitas
mAh Bukan Satu-satunya Penentu
Smartwatch
A mempunyai baterai 300 mAh.
Smartwatch
B mempunyai 450 mAh.
Apakah
B pasti lebih awet?
Belum
tentu.
Smartwatch
B mungkin mempunyai layar lebih besar.
GPS
lebih aktif.
Chipset
berbeda.
Sensor
lebih banyak.
Sistem
berbeda.
Jadi
kapasitas baterai hanya satu bagian dari keseluruhan.
Optimasi
perangkat mempunyai peran sangat besar.
Saya
lebih memperhatikan hasil penggunaan nyata daripada hanya membandingkan angka
mAh.
19. Ukuran Layar Juga
Berpengaruh
Smartwatch
sekarang semakin besar.
Layar 1,96
inci atau bahkan lebih sudah cukup umum.
Layar besar
memang nyaman untuk membaca pesan dan menggunakan menu.
Tetapi area
layar yang lebih besar juga mempunyai kebutuhan daya tersendiri.
Sekali
lagi, ini tidak berarti smartwatch besar pasti boros.
Panel dan
optimasi sangat menentukan.
Namun
ukuran layar tetap menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan.
20. Terlalu Banyak
Fitur Aktif Bersamaan
Coba
bayangkan satu smartwatch dengan kondisi:
- AOD aktif.
- Brightness tinggi.
- Raise to Wake aktif.
- Heart rate 24 jam.
- SpO2 otomatis.
- Stress monitoring aktif.
- Sleep monitoring aktif.
- Semua notifikasi masuk.
- Bluetooth Calling aktif.
- GPS sering digunakan.
Kemudian
baterainya tidak mencapai klaim maksimal.
Sebenarnya
hal tersebut cukup masuk akal.
Semua
fitur tersebut membutuhkan energi.
Smartwatch
tidak bisa menjalankan semuanya tanpa konsekuensi.
Cara Saya
Menghemat Baterai Tanpa Membuat Smartwatch Jadi “Bodoh”
Saya
tidak suka tips menghemat baterai yang akhirnya menyuruh mematikan semua fitur.
Kalau
semuanya dimatikan, untuk apa membeli smartwatch?
Saya
lebih memilih mencari keseimbangan.
Biasanya
saya melakukan beberapa hal:
AOD digunakan kalau memang sedang ingin memakainya.
Brightness dibuat secukupnya.
Notifikasi hanya dari aplikasi penting.
GPS digunakan ketika olahraga.
Sensor otomatis dipilih sesuai kebutuhan.
Bluetooth Calling tetap aktif kalau memang sering digunakan.
Dengan
cara seperti ini, smartwatch tetap terasa pintar tetapi baterainya tidak
digunakan untuk fitur yang tidak saya perlukan.
Coba Tes Baterai
Selama Beberapa Hari
Kalau
merasa smartwatch boros, jangan langsung mengubah semua pengaturan sekaligus.
Kita
justru tidak akan tahu penyebabnya.
Coba
satu per satu.
Hari
pertama, matikan AOD.
Lihat
perubahan.
Kemudian
kurangi notifikasi.
Perhatikan
lagi.
Setelah
itu periksa sensor otomatis.
Dengan
cara seperti ini, kita bisa mengetahui fitur mana yang paling berpengaruh pada
pola penggunaan sendiri.
Kapan Baterai
Boros Mulai Tidak Normal?
Misalnya
smartwatch biasanya bertahan lima hari.
Kemudian
tanpa perubahan penggunaan tiba-tiba hanya bertahan setengah hari.
Itu
patut diperiksa.
Terutama
kalau disertai:
smartwatch
sangat panas,
baterai
turun puluhan persen dalam waktu sangat singkat,
perangkat
sering restart,
charging
bermasalah,
atau
bentuk casing mulai berubah.
Kalau
ada tanda kerusakan baterai secara fisik, jangan terus menggunakan atau mengisi
daya perangkat.
Cari
layanan servis yang sesuai.
Jangan Mengejar
Baterai Sampai Tidak Menikmati Smartwatch
Ini
menurut saya penting.
Kadang
kita terlalu fokus membuat smartwatch tahan selama mungkin.
AOD
dimatikan.
Sensor
dimatikan.
Notifikasi
dimatikan.
Raise
to Wake dimatikan.
Bluetooth
Calling dimatikan.
Akhirnya
smartwatch tahan sangat lama.
Tetapi
fungsinya hampir seperti jam digital biasa.
Kalau
memang fitur tersebut kita butuhkan, gunakan saja.
Baterai
memang dibuat untuk diisi ulang.
Yang
lebih penting adalah mendapatkan daya tahan yang masuk akal untuk pola
penggunaan kita.
Berapa Hari
Baterai Smartwatch yang Ideal?
Tidak
ada satu angka untuk semua orang.
Kalau
smartwatch mempunyai sistem operasi lengkap dengan banyak aplikasi, charging
lebih sering mungkin masih dapat diterima.
Untuk
smartwatch sederhana, saya pribadi menyukai perangkat yang dapat digunakan
beberapa hari sehingga tidak perlu membawa charger setiap saat.
Tetapi
kebutuhan setiap orang berbeda.
Pengguna
yang rajin olahraga dengan GPS tentu mempunyai konsumsi baterai berbeda dengan
pengguna yang hanya menerima notifikasi.
Jadi
jangan membandingkan daya tahan tanpa melihat cara penggunaannya.
Kesimpulan
Baterai smartwatch yang cepat
habis tidak selalu berarti baterainya rusak.
Sering kali penyebabnya
berasal dari kombinasi berbagai fitur yang aktif.
Always-On Display,
brightness tinggi, GPS, Bluetooth Calling, pemantauan kesehatan 24 jam, terlalu
banyak notifikasi, koneksi tidak stabil, watch face, serta aktivitas background semuanya dapat memengaruhi daya tahan baterai.
Selain itu, baterai juga
mengalami penuaan setelah digunakan dalam waktu lama.
Karena itu, kalau smartwatch
terasa boros, saya tidak langsung menyalahkan kapasitas baterainya.
Saya biasanya melihat
bagaimana jam tersebut digunakan.
Apa saja yang aktif?
Berapa banyak notifikasi
masuk?
Seberapa sering GPS digunakan?
Apakah AOD menyala?
Apakah smartwatch sudah
berumur beberapa tahun?
Dari situ penyebabnya biasanya
jauh lebih mudah ditemukan.
Dan menurut saya, tujuan
terbaik bukan membuat smartwatch bertahan selama mungkin dengan mematikan semua
fitur.
Tujuannya adalah menemukan keseimbangan
antara fitur yang kita nikmati dan daya tahan baterai yang masih nyaman.
Karena smartwatch yang tahan 20 hari tetapi seluruh fitur pintarnya dimatikan belum tentu lebih menyenangkan daripada smartwatch yang bertahan lima hari tetapi benar-benar membantu aktivitas kita setiap hari.

0 Komentar