GUM0GfM5TSr5GUYiBUd7TUCpTA==
0
    0
      Breaking News

      Kenapa Smartwatch Cepat Rusak? Hindari 20 Kebiasaan Ini

      Smartwatch cepat rusak belum tentu karena produknya buruk. Kenali kebiasaan yang dapat memperpendek usia smartwatch

       


      Kenapa Smartwatch Cepat Rusak? Kebiasaan Sepele yang Sering Tidak Disadari

      Smartwatch itu sebenarnya perangkat yang cukup unik.

      Kita memakainya hampir sepanjang hari, dibawa bekerja, berkeringat saat olahraga, terkena debu, kadang kehujanan, lalu malamnya masih digunakan untuk memantau tidur.

      Besok pagi dipakai lagi.

      Karena sudah terbiasa berada di pergelangan tangan, kadang kita memperlakukan smartwatch seperti jam tangan biasa.

      Padahal di dalam benda kecil tersebut terdapat layar, baterai, sensor, speaker, mikrofon, motor getar, Bluetooth, dan berbagai komponen elektronik lainnya.

      Saya sendiri pernah punya kebiasaan langsung meletakkan smartwatch ke charger setelah digunakan seharian. Kalau baterainya tinggal sedikit, rasanya ingin segera diisi supaya besok pagi sudah penuh.

      Setelah lebih sering menggunakan berbagai jenis smartwatch, saya justru mulai memperhatikan hal-hal kecil seperti kondisi bagian belakang jam, konektor charger, strap, dan apakah jam masih basah setelah digunakan.

      Kelihatannya sepele.

      Tetapi menurut saya, cara kita menggunakan smartwatch sehari-hari cukup menentukan bagaimana kondisi perangkat setelah digunakan dalam waktu lama.

      Berikut beberapa kebiasaan yang sering tidak kita sadari.

      1. Langsung Mengisi Daya Saat Smartwatch Masih Basah

      Ini salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari.

      Misalnya kita baru selesai olahraga.

      Pergelangan tangan berkeringat dan bagian belakang smartwatch ikut basah.

      Baterai kebetulan hampir habis.

      Smartwatch kemudian dilepas dan langsung ditempelkan ke charger magnetik.

      Saya lebih memilih mengeringkan smartwatch terlebih dahulu, terutama area kontak pengisian daya.

      Hal yang sama berlaku setelah smartwatch terkena air.

      Meskipun perangkat mempunyai ketahanan air, bagian pengisian daya tetap sebaiknya dalam kondisi bersih dan kering sebelum charger dipasang.

      2. Menganggap IP68 Berarti Aman untuk Semua Jenis Air

      Tulisan IP68 memang sering kita temukan pada smartwatch.

      Tetapi IP68 tidak berarti smartwatch otomatis aman digunakan untuk semua aktivitas yang berhubungan dengan air.

      Ada perbedaan antara terkena hujan, terciprat air, terendam pada kondisi pengujian tertentu, berenang, terkena air panas, atau digunakan pada aktivitas dengan tekanan air tertentu.

      Karena itu saya selalu menyarankan membaca keterangan ketahanan air dari produsen.

      Jangan hanya melihat tulisan:

      “Waterproof.”

      Lalu menganggap jam bebas digunakan di mana saja.

      Ketahanan air mempunyai batas dan kondisi pengujian.

      3. Membawa Smartwatch ke Air Panas

      Kalau smartwatch tahan air, apakah aman dibawa mandi air panas?

      Saya pribadi menghindarinya.

      Air bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan.

      Ada juga suhu, uap, sabun, dan perubahan kondisi lingkungan.

      Perangkat elektronik kecil mempunyai berbagai sambungan dan material di dalamnya.

      Karena itu, ketahanan terhadap air pada kondisi tertentu tidak otomatis berarti perangkat dirancang untuk sauna, air panas, atau paparan uap terus-menerus.

      Kalau tidak ada petunjuk resmi yang menyatakan aman, saya memilih melepas smartwatch.

      Lebih sederhana.

      4. Tidak Pernah Membersihkan Bagian Belakang Smartwatch

      Coba balik smartwatch yang sudah digunakan beberapa hari.

      Bagian belakangnya langsung bersentuhan dengan kulit.

      Ada keringat.

      Minyak alami kulit.

      Debu.

      Kadang sisa lotion.

      Semua dapat menempel di sekitar sensor dan bodi.

      Karena tidak terlihat ketika jam dipakai, bagian ini mudah dilupakan.

      Saya biasanya membersihkannya secara berkala menggunakan metode yang sesuai dengan petunjuk perangkat.

      Selain membuat jam lebih nyaman dipakai, permukaan sensor yang bersih juga penting karena sensor optik bekerja dari bagian tersebut.

      5. Konektor Charger Dibiarkan Kotor

      Charger magnetik smartwatch terlihat sangat sederhana.

      Tinggal ditempel.

      Selesai.

      Tetapi area kontak pengisian daya juga dapat terkena keringat dan kotoran.

      Kalau dibiarkan, proses pengisian bisa menjadi kurang nyaman atau kontak tidak menempel sebagaimana mestinya.

      Kalau smartwatch tiba-tiba sulit mengisi daya, saya tidak langsung menyimpulkan baterainya rusak.

      Hal pertama yang saya periksa justru:

      Apakah chargernya menempel dengan benar?

      Apakah area kontaknya bersih?

      Apakah kabelnya masih baik?

      Kadang masalahnya jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan.

      6. Menggunakan Kepala Charger Sembarangan

      Tidak semua smartwatch mempunyai kebutuhan pengisian daya yang sama.

      Karena itu, saya lebih nyaman menggunakan kabel bawaan atau aksesori yang memang direkomendasikan untuk perangkat tersebut dan mengikuti spesifikasi pengisian dari produsen.

      Jangan berasumsi bahwa karena ujung USB-nya bisa masuk ke adaptor tertentu, berarti semua kombinasi charger otomatis ideal.

      Terutama pada smartwatch murah yang informasi sistem pengisian dayanya kadang tidak terlalu lengkap.

      Kalau masih mempunyai charger bawaan, simpan dengan baik.

      Benda kecil seperti ini justru sering hilang.

      7. Menarik Kabel Charger dari Bagian Kabelnya

      Ini bukan hanya berlaku pada smartwatch.

      Ketika ingin mencabut charger, sebagian orang menarik kabelnya.

      Dilakukan sekali mungkin tidak terjadi apa-apa.

      Tetapi kalau menjadi kebiasaan, bagian sambungan kabel bisa menerima tekanan terus-menerus.

      Saya lebih suka memegang bagian konektor ketika melepas kabel.

      Kelihatannya terlalu sederhana untuk dibahas.

      Tetapi kabel charger smartwatch biasanya cukup tipis dan sering digulung, dimasukkan tas, atau diletakkan sembarangan.

      Merawat kabel berarti kita juga mengurangi kemungkinan harus mencari charger pengganti yang belum tentu cocok.

      8. Membiarkan Baterai Benar-Benar Habis Terlalu Lama

      Kadang kita berhenti menggunakan smartwatch.

      Jam dimasukkan ke laci dalam kondisi baterai hampir kosong.

      Beberapa minggu kemudian baru teringat.

      Untuk perangkat dengan baterai isi ulang, menyimpan perangkat dalam kondisi baterai sangat rendah dalam waktu panjang bukan kebiasaan yang saya pilih.

      Kalau smartwatch akan disimpan cukup lama, periksa petunjuk penyimpanan dari produsennya.

      Yang jelas, jangan hanya melemparkannya ke laci selama berbulan-bulan lalu berharap kondisi baterai tetap sama.

      9. Mengisi Daya di Tempat yang Sangat Panas

      Panas merupakan salah satu hal yang kurang bersahabat dengan baterai.

      Karena itu saya tidak suka mengisi smartwatch di tempat yang terkena sinar matahari langsung atau permukaan yang sangat panas.

      Kalau ketika charging smartwatch terasa jauh lebih panas dari biasanya, saya juga tidak mengabaikannya begitu saja.

      Sedikit perubahan suhu selama pengisian dapat terjadi.

      Tetapi panas yang tidak wajar, bau aneh, perubahan bentuk, atau masalah lain merupakan alasan untuk menghentikan penggunaan dan memeriksa perangkat.

      Jangan memaksakan smartwatch yang menunjukkan tanda kerusakan baterai.

      10. Membiarkan Smartwatch Terbentur Berkali-kali

      Ini yang cukup sulit dihindari.

      Smartwatch berada di tangan.

      Tangan adalah bagian tubuh yang sangat aktif.

      Jam bisa mengenai meja.

      Pintu.

      Dinding.

      Besi.

      Atau benda lainnya.

      Sekali dua kali mungkin tidak meninggalkan bekas.

      Tetapi benturan tetaplah benturan.

      Kalau sering bekerja di lingkungan yang berisiko membuat jam terbentur, smartwatch dengan desain rugged atau penggunaan pelindung yang sesuai bisa dipertimbangkan.

      Namun pelindung juga jangan sampai mengganggu sensor, mikrofon, speaker, atau tombol.

      11. Mengira Kaca Smartwatch Tidak Bisa Tergores

      Saat masih baru, layar smartwatch terlihat sangat mulus.

      Lalu beberapa minggu kemudian kita melihatnya dari sudut tertentu.

      Ada garis kecil.

      Tidak terlalu terlihat.

      Tetapi setelah menyadarinya, mata malah terus melihat ke sana.

      Kaca smartwatch mempunyai tingkat ketahanan berbeda tergantung material yang digunakan.

      Namun istilah seperti tempered glass atau jenis kaca tertentu bukan berarti permukaannya mustahil tergores.

      Pasir dan partikel keras kecil yang menempel pada permukaan juga dapat menjadi masalah.

      Kalau sangat memperhatikan kondisi layar, screen protector bisa menjadi pilihan.

      Saya sendiri lebih melihatnya sebagai kompromi: perlindungan tambahan dengan kemungkinan sedikit mengubah rasa sentuhan atau tampilan.

      12. Memakai Strap Terlalu Kencang

      Ada alasan orang memasang strap sangat kencang.

      Smartwatch tidak bergerak.

      Sensor menempel sempurna.

      Kelihatannya ideal.

      Tetapi jam juga harus nyaman digunakan.

      Saya biasanya memasang strap cukup rapat agar sensor mempunyai kontak yang baik dengan kulit, tetapi masih nyaman untuk aktivitas sehari-hari.

      Ketika olahraga, posisi dapat disesuaikan jika diperlukan.

      Setelah selesai, strap bisa dibuat sedikit lebih nyaman.

      Smartwatch dipakai berjam-jam.

      Tidak ada gunanya mempunyai sensor canggih kalau pergelangan tangan justru terasa tidak nyaman.

      13. Tidak Pernah Membersihkan Strap

      Strap juga perlu diperhatikan.

      Apalagi strap silikon yang sering terkena keringat ketika olahraga.

      Kotoran dapat menumpuk di bagian dalam.

      Kalau menggunakan smartwatch setiap hari, strap merupakan bagian yang paling banyak bersentuhan dengan kulit selain bagian belakang jam.

      Cara membersihkannya tergantung material.

      Strap silikon tentu berbeda dengan kulit, logam, atau kain.

      Jangan menggunakan bahan pembersih sembarangan karena dapat merusak permukaan atau warnanya.

      14. Menekan Tombol Saat Smartwatch Sedang Terendam

      Pada beberapa perangkat, produsen memberikan petunjuk tertentu mengenai penggunaan tombol ketika berada di dalam air.

      Saya memilih mengikuti petunjuk tersebut.

      Jangan berasumsi semua smartwatch boleh dioperasikan dengan cara yang sama ketika basah atau terendam.

      Desain tombol, seal, dan sistem ketahanan air setiap perangkat berbeda.

      Sekali lagi, water resistant bukan berarti tidak mempunyai aturan penggunaan.

      15. Menginstal Watch Face dari Sumber yang Tidak Jelas

      Smartwatch dengan sistem yang mendukung aplikasi atau watch face tambahan memang menyenangkan.

      Kita bisa mengubah tampilan jam hampir setiap hari.

      Tetapi saya tetap lebih nyaman menggunakan sumber resmi atau yang direkomendasikan oleh ekosistem perangkat.

      Selain masalah keamanan, watch face yang buruk juga dapat membuat sistem terasa berat atau menggunakan daya lebih banyak.

      Pada smartwatch sederhana yang hanya menggunakan watch face dari aplikasi bawaan, risikonya tentu berbeda.

      Prinsipnya sama:

      jangan asal memasukkan sesuatu ke perangkat hanya karena terlihat menarik.

      16. Tidak Pernah Melakukan Update

      Kalau smartwatch bekerja normal, kita sering malas membuka menu update.

      Padahal pembaruan firmware dapat berisi perbaikan bug, peningkatan kompatibilitas, atau perubahan sistem lainnya.

      Saya tidak mengatakan setiap update harus dipasang pada detik pertama tersedia.

      Tetapi setidaknya periksa informasi pembaruannya.

      Gunakan aplikasi resmi dan pastikan proses update tidak terganggu.

      Jangan mematikan perangkat atau memutus koneksi ketika firmware sedang dipasang kecuali petunjuk produsen mengatakan lain.

      17. Terlalu Sering Membandingkan Persentase Baterai

      Baterai smartwatch tidak harus turun dengan pola yang terlihat sempurna setiap jam.

      Kadang kita melihat:

      pagi 100 persen.

      Beberapa jam kemudian 92 persen.

      Kemudian cukup lama bertahan di angka tertentu.

      Persentase yang ditampilkan merupakan estimasi sistem.

      Daripada terus melihat angka setiap beberapa menit, saya lebih memperhatikan berapa lama smartwatch mampu bertahan dalam pola penggunaan normal.

      Kalau biasanya tahan beberapa hari lalu tiba-tiba hanya bertahan beberapa jam tanpa perubahan penggunaan, barulah perlu diperiksa.

      18. Membiarkan Semua Fitur Aktif Padahal Tidak Digunakan

      AOD aktif.

      Raise to wake aktif.

      Pemantauan kesehatan aktif terus.

      Notifikasi semua aplikasi masuk.

      Brightness tinggi.

      Bluetooth Calling aktif.

      GPS digunakan.

      Lalu kita heran baterainya lebih cepat habis.

      Smartwatch memang dibeli untuk digunakan.

      Jadi saya tidak menyarankan mematikan semuanya hanya demi mengejar baterai.

      Tetapi pilih fitur yang benar-benar berguna.

      Kalau tidak pernah menggunakan AOD, matikan.

      Kalau tidak membutuhkan notifikasi dari aplikasi belanja setiap lima menit, nonaktifkan.

      Smartwatch menjadi lebih nyaman dan baterai juga tidak bekerja untuk hal yang tidak diperlukan.

      19. Menggunakan Smartwatch Sampai Kondisinya Tidak Aman

      Ada perbedaan antara perangkat yang mulai tua dan perangkat yang menunjukkan tanda kerusakan serius.

      Kalau smartwatch hanya mempunyai goresan kecil, mungkin tidak menjadi masalah.

      Tetapi kalau:

      baterai terlihat menggelembung,

      casing mulai terangkat,

      perangkat sangat panas,

      tercium bau tidak normal,

      atau ada kerusakan fisik berat,

      saya tidak akan terus menggunakannya hanya karena masih bisa menyala.

      Baterai lithium-ion membutuhkan penanganan yang tepat.

      Jika terdapat tanda kerusakan, hentikan penggunaan dan cari layanan yang sesuai.

      20. Menganggap Semua Smartwatch Dirawat dengan Cara yang Sama

      Ini mungkin kesalahan terbesar.

      Smartwatch berbeda-beda.

      Ada yang dirancang untuk olahraga.

      Ada yang rugged.

      Ada yang fokus pada fashion.

      Ada yang mempunyai ketahanan air tinggi.

      Ada pula yang hanya dirancang menghadapi penggunaan sehari-hari.

      Material strap berbeda.

      Jenis charger berbeda.

      Konstruksi berbeda.

      Karena itu, petunjuk dari produsen tetap menjadi rujukan utama.

      Tips umum seperti artikel ini dapat membantu, tetapi spesifikasi perangkat sendiri tetap harus diperhatikan.

      Smartwatch Mahal Juga Bisa Rusak

      Harga tinggi tidak membuat perangkat kebal terhadap kerusakan.

      Smartwatch premium mungkin menggunakan material yang lebih baik, kaca lebih kuat, atau mempunyai standar ketahanan tertentu.

      Tetapi kalau terus terkena benturan, suhu ekstrem, penggunaan yang tidak sesuai, atau baterainya sudah menua, perangkat tetap dapat mengalami masalah.

      Begitu pula smartwatch murah.

      Murah tidak otomatis berarti akan cepat rusak.

      Kalau digunakan sesuai kemampuan dan dirawat dengan baik, smartwatch terjangkau pun bisa digunakan dalam waktu yang cukup lama.

      Cara Sederhana Saya Merawat Smartwatch

      Saya tidak mempunyai ritual khusus.

      Justru semakin sederhana, semakin mudah dilakukan secara rutin.

      Setelah olahraga, saya memastikan jam bersih dan kering.

      Kalau terkena air, saya tidak langsung memasangnya ke charger.

      Bagian belakang jam sesekali dibersihkan.

      Strap diperiksa.

      Charger tidak ditarik dari kabel.

      Smartwatch tidak diletakkan di tempat yang sangat panas.

      Dan saya tidak memaksakan fitur ketahanan air melebihi keterangan produsennya.

      Tidak rumit.

      Tetapi kebiasaan seperti inilah yang menurut saya lebih realistis dilakukan setiap hari.

      Kesimpulan

      Smartwatch tidak selalu cepat rusak karena kualitas produknya buruk.

      Cara penggunaan juga mempunyai pengaruh besar.

      Kebiasaan seperti mengisi daya ketika jam masih basah, menggunakan perangkat di kondisi yang tidak sesuai dengan rating ketahanan air, membiarkan konektor kotor, memakai charger yang tidak sesuai, atau terus menggunakan perangkat yang sudah menunjukkan tanda kerusakan sebaiknya dihindari.

      Smartwatch memang dibuat untuk menemani aktivitas.

      Tidak perlu terlalu takut menggunakannya.

      Saya juga tidak membeli smartwatch hanya untuk disimpan agar selalu terlihat baru.

      Tetapi ada perbedaan antara menggunakan perangkat secara normal dan mengabaikan batas kemampuannya.

      Setelah cukup sering menggunakan smartwatch, saya justru merasa perawatan terbaik bukan sesuatu yang rumit.

      Cukup biasakan satu hal:

      sebelum melakukan sesuatu pada smartwatch, ingat bahwa benda kecil di pergelangan tangan itu tetap sebuah perangkat elektronik.


      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post