Kenapa
Smartwatch Cepat Rusak? Kebiasaan Sepele yang Sering Tidak Disadari
Smartwatch itu sebenarnya perangkat yang cukup unik.
Kita memakainya hampir sepanjang hari, dibawa bekerja, berkeringat
saat olahraga, terkena debu, kadang kehujanan, lalu malamnya masih digunakan
untuk memantau tidur.
Besok pagi dipakai lagi.
Karena sudah terbiasa berada di pergelangan tangan, kadang kita
memperlakukan smartwatch seperti jam tangan biasa.
Padahal di dalam benda kecil tersebut terdapat layar, baterai,
sensor, speaker, mikrofon, motor getar, Bluetooth, dan berbagai komponen
elektronik lainnya.
Saya sendiri pernah punya kebiasaan langsung meletakkan smartwatch
ke charger setelah digunakan seharian. Kalau baterainya tinggal sedikit,
rasanya ingin segera diisi supaya besok pagi sudah penuh.
Setelah lebih sering menggunakan berbagai jenis smartwatch, saya
justru mulai memperhatikan hal-hal kecil seperti kondisi bagian belakang jam,
konektor charger, strap, dan apakah jam masih basah setelah digunakan.
Kelihatannya sepele.
Tetapi menurut saya, cara kita menggunakan smartwatch sehari-hari
cukup menentukan bagaimana kondisi perangkat setelah digunakan dalam waktu
lama.
Berikut beberapa kebiasaan yang sering tidak kita sadari.
1. Langsung
Mengisi Daya Saat Smartwatch Masih Basah
Ini
salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari.
Misalnya
kita baru selesai olahraga.
Pergelangan
tangan berkeringat dan bagian belakang smartwatch ikut basah.
Baterai
kebetulan hampir habis.
Smartwatch
kemudian dilepas dan langsung ditempelkan ke charger magnetik.
Saya
lebih memilih mengeringkan smartwatch terlebih dahulu, terutama area
kontak pengisian daya.
Hal
yang sama berlaku setelah smartwatch terkena air.
Meskipun
perangkat mempunyai ketahanan air, bagian pengisian daya tetap sebaiknya dalam
kondisi bersih dan kering sebelum charger dipasang.
2. Menganggap
IP68 Berarti Aman untuk Semua Jenis Air
Tulisan
IP68 memang sering kita temukan pada smartwatch.
Tetapi
IP68 tidak berarti smartwatch otomatis aman digunakan untuk semua aktivitas
yang berhubungan dengan air.
Ada
perbedaan antara terkena hujan, terciprat air, terendam pada kondisi pengujian
tertentu, berenang, terkena air panas, atau digunakan pada aktivitas dengan
tekanan air tertentu.
Karena
itu saya selalu menyarankan membaca keterangan ketahanan air dari produsen.
Jangan
hanya melihat tulisan:
“Waterproof.”
Lalu
menganggap jam bebas digunakan di mana saja.
Ketahanan
air mempunyai batas dan kondisi pengujian.
3. Membawa Smartwatch ke
Air Panas
Kalau
smartwatch tahan air, apakah aman dibawa mandi air panas?
Saya
pribadi menghindarinya.
Air bukan
satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan.
Ada juga suhu,
uap, sabun, dan perubahan kondisi lingkungan.
Perangkat
elektronik kecil mempunyai berbagai sambungan dan material di dalamnya.
Karena
itu, ketahanan terhadap air pada kondisi tertentu tidak otomatis berarti
perangkat dirancang untuk sauna, air panas, atau paparan uap terus-menerus.
Kalau
tidak ada petunjuk resmi yang menyatakan aman, saya memilih melepas smartwatch.
Lebih
sederhana.
4. Tidak Pernah
Membersihkan Bagian Belakang Smartwatch
Coba
balik smartwatch yang sudah digunakan beberapa hari.
Bagian
belakangnya langsung bersentuhan dengan kulit.
Ada
keringat.
Minyak
alami kulit.
Debu.
Kadang
sisa lotion.
Semua
dapat menempel di sekitar sensor dan bodi.
Karena
tidak terlihat ketika jam dipakai, bagian ini mudah dilupakan.
Saya
biasanya membersihkannya secara berkala menggunakan metode yang sesuai dengan
petunjuk perangkat.
Selain
membuat jam lebih nyaman dipakai, permukaan sensor yang bersih juga penting
karena sensor optik bekerja dari bagian tersebut.
5. Konektor Charger
Dibiarkan Kotor
Charger
magnetik smartwatch terlihat sangat sederhana.
Tinggal
ditempel.
Selesai.
Tetapi
area kontak pengisian daya juga dapat terkena keringat dan kotoran.
Kalau
dibiarkan, proses pengisian bisa menjadi kurang nyaman atau kontak tidak
menempel sebagaimana mestinya.
Kalau
smartwatch tiba-tiba sulit mengisi daya, saya tidak langsung menyimpulkan
baterainya rusak.
Hal
pertama yang saya periksa justru:
Apakah
chargernya menempel dengan benar?
Apakah
area kontaknya bersih?
Apakah
kabelnya masih baik?
Kadang
masalahnya jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan.
6. Menggunakan
Kepala Charger Sembarangan
Tidak
semua smartwatch mempunyai kebutuhan pengisian daya yang sama.
Karena
itu, saya lebih nyaman menggunakan kabel bawaan atau aksesori yang memang
direkomendasikan untuk perangkat tersebut dan mengikuti spesifikasi pengisian
dari produsen.
Jangan
berasumsi bahwa karena ujung USB-nya bisa masuk ke adaptor tertentu, berarti
semua kombinasi charger otomatis ideal.
Terutama
pada smartwatch murah yang informasi sistem pengisian dayanya kadang tidak
terlalu lengkap.
Kalau
masih mempunyai charger bawaan, simpan dengan baik.
Benda
kecil seperti ini justru sering hilang.
7. Menarik Kabel
Charger dari Bagian Kabelnya
Ini
bukan hanya berlaku pada smartwatch.
Ketika
ingin mencabut charger, sebagian orang menarik kabelnya.
Dilakukan
sekali mungkin tidak terjadi apa-apa.
Tetapi
kalau menjadi kebiasaan, bagian sambungan kabel bisa menerima tekanan
terus-menerus.
Saya
lebih suka memegang bagian konektor ketika melepas kabel.
Kelihatannya
terlalu sederhana untuk dibahas.
Tetapi
kabel charger smartwatch biasanya cukup tipis dan sering digulung, dimasukkan
tas, atau diletakkan sembarangan.
Merawat
kabel berarti kita juga mengurangi kemungkinan harus mencari charger pengganti
yang belum tentu cocok.
8. Membiarkan
Baterai Benar-Benar Habis Terlalu Lama
Kadang
kita berhenti menggunakan smartwatch.
Jam
dimasukkan ke laci dalam kondisi baterai hampir kosong.
Beberapa
minggu kemudian baru teringat.
Untuk
perangkat dengan baterai isi ulang, menyimpan perangkat dalam kondisi baterai
sangat rendah dalam waktu panjang bukan kebiasaan yang saya pilih.
Kalau
smartwatch akan disimpan cukup lama, periksa petunjuk penyimpanan dari
produsennya.
Yang
jelas, jangan hanya melemparkannya ke laci selama berbulan-bulan lalu berharap
kondisi baterai tetap sama.
9. Mengisi Daya
di Tempat yang Sangat Panas
Panas
merupakan salah satu hal yang kurang bersahabat dengan baterai.
Karena
itu saya tidak suka mengisi smartwatch di tempat yang terkena sinar matahari
langsung atau permukaan yang sangat panas.
Kalau
ketika charging smartwatch terasa jauh lebih panas dari biasanya, saya juga
tidak mengabaikannya begitu saja.
Sedikit
perubahan suhu selama pengisian dapat terjadi.
Tetapi
panas yang tidak wajar, bau aneh, perubahan bentuk, atau masalah lain merupakan
alasan untuk menghentikan penggunaan dan memeriksa perangkat.
Jangan
memaksakan smartwatch yang menunjukkan tanda kerusakan baterai.
10. Membiarkan
Smartwatch Terbentur Berkali-kali
Ini
yang cukup sulit dihindari.
Smartwatch
berada di tangan.
Tangan
adalah bagian tubuh yang sangat aktif.
Jam
bisa mengenai meja.
Pintu.
Dinding.
Besi.
Atau
benda lainnya.
Sekali
dua kali mungkin tidak meninggalkan bekas.
Tetapi
benturan tetaplah benturan.
Kalau
sering bekerja di lingkungan yang berisiko membuat jam terbentur, smartwatch
dengan desain rugged atau penggunaan pelindung yang sesuai bisa
dipertimbangkan.
Namun
pelindung juga jangan sampai mengganggu sensor, mikrofon, speaker, atau tombol.
11. Mengira Kaca
Smartwatch Tidak Bisa Tergores
Saat
masih baru, layar smartwatch terlihat sangat mulus.
Lalu
beberapa minggu kemudian kita melihatnya dari sudut tertentu.
Ada
garis kecil.
Tidak
terlalu terlihat.
Tetapi
setelah menyadarinya, mata malah terus melihat ke sana.
Kaca
smartwatch mempunyai tingkat ketahanan berbeda tergantung material yang
digunakan.
Namun
istilah seperti tempered glass atau jenis kaca tertentu bukan berarti
permukaannya mustahil tergores.
Pasir
dan partikel keras kecil yang menempel pada permukaan juga dapat menjadi
masalah.
Kalau
sangat memperhatikan kondisi layar, screen protector bisa menjadi pilihan.
Saya
sendiri lebih melihatnya sebagai kompromi: perlindungan tambahan dengan
kemungkinan sedikit mengubah rasa sentuhan atau tampilan.
12. Memakai Strap Terlalu
Kencang
Ada alasan
orang memasang strap sangat kencang.
Smartwatch
tidak bergerak.
Sensor
menempel sempurna.
Kelihatannya
ideal.
Tetapi jam
juga harus nyaman digunakan.
Saya
biasanya memasang strap cukup rapat agar sensor mempunyai kontak yang baik
dengan kulit, tetapi masih nyaman untuk aktivitas sehari-hari.
Ketika
olahraga, posisi dapat disesuaikan jika diperlukan.
Setelah
selesai, strap bisa dibuat sedikit lebih nyaman.
Smartwatch
dipakai berjam-jam.
Tidak ada
gunanya mempunyai sensor canggih kalau pergelangan tangan justru terasa tidak
nyaman.
13. Tidak Pernah
Membersihkan Strap
Strap
juga perlu diperhatikan.
Apalagi
strap silikon yang sering terkena keringat ketika olahraga.
Kotoran
dapat menumpuk di bagian dalam.
Kalau
menggunakan smartwatch setiap hari, strap merupakan bagian yang paling banyak
bersentuhan dengan kulit selain bagian belakang jam.
Cara
membersihkannya tergantung material.
Strap
silikon tentu berbeda dengan kulit, logam, atau kain.
Jangan
menggunakan bahan pembersih sembarangan karena dapat merusak permukaan atau
warnanya.
14. Menekan
Tombol Saat Smartwatch Sedang Terendam
Pada
beberapa perangkat, produsen memberikan petunjuk tertentu mengenai penggunaan
tombol ketika berada di dalam air.
Saya
memilih mengikuti petunjuk tersebut.
Jangan
berasumsi semua smartwatch boleh dioperasikan dengan cara yang sama ketika
basah atau terendam.
Desain
tombol, seal, dan sistem ketahanan air setiap perangkat berbeda.
Sekali
lagi, water resistant bukan berarti tidak mempunyai aturan penggunaan.
15. Menginstal
Watch Face dari Sumber yang Tidak Jelas
Smartwatch
dengan sistem yang mendukung aplikasi atau watch face tambahan memang
menyenangkan.
Kita
bisa mengubah tampilan jam hampir setiap hari.
Tetapi
saya tetap lebih nyaman menggunakan sumber resmi atau yang direkomendasikan
oleh ekosistem perangkat.
Selain
masalah keamanan, watch face yang buruk juga dapat membuat sistem terasa berat
atau menggunakan daya lebih banyak.
Pada
smartwatch sederhana yang hanya menggunakan watch face dari aplikasi bawaan,
risikonya tentu berbeda.
Prinsipnya
sama:
jangan
asal memasukkan sesuatu ke perangkat hanya karena terlihat menarik.
16. Tidak Pernah Melakukan
Update
Kalau
smartwatch bekerja normal, kita sering malas membuka menu update.
Padahal
pembaruan firmware dapat berisi perbaikan bug, peningkatan kompatibilitas, atau
perubahan sistem lainnya.
Saya tidak
mengatakan setiap update harus dipasang pada detik pertama tersedia.
Tetapi
setidaknya periksa informasi pembaruannya.
Gunakan
aplikasi resmi dan pastikan proses update tidak terganggu.
Jangan
mematikan perangkat atau memutus koneksi ketika firmware sedang dipasang
kecuali petunjuk produsen mengatakan lain.
17. Terlalu
Sering Membandingkan Persentase Baterai
Baterai
smartwatch tidak harus turun dengan pola yang terlihat sempurna setiap jam.
Kadang
kita melihat:
pagi
100 persen.
Beberapa
jam kemudian 92 persen.
Kemudian
cukup lama bertahan di angka tertentu.
Persentase
yang ditampilkan merupakan estimasi sistem.
Daripada
terus melihat angka setiap beberapa menit, saya lebih memperhatikan berapa
lama smartwatch mampu bertahan dalam pola penggunaan normal.
Kalau
biasanya tahan beberapa hari lalu tiba-tiba hanya bertahan beberapa jam tanpa
perubahan penggunaan, barulah perlu diperiksa.
18. Membiarkan
Semua Fitur Aktif Padahal Tidak Digunakan
AOD
aktif.
Raise
to wake aktif.
Pemantauan
kesehatan aktif terus.
Notifikasi
semua aplikasi masuk.
Brightness
tinggi.
Bluetooth
Calling aktif.
GPS
digunakan.
Lalu
kita heran baterainya lebih cepat habis.
Smartwatch
memang dibeli untuk digunakan.
Jadi
saya tidak menyarankan mematikan semuanya hanya demi mengejar baterai.
Tetapi
pilih fitur yang benar-benar berguna.
Kalau
tidak pernah menggunakan AOD, matikan.
Kalau
tidak membutuhkan notifikasi dari aplikasi belanja setiap lima menit,
nonaktifkan.
Smartwatch
menjadi lebih nyaman dan baterai juga tidak bekerja untuk hal yang tidak
diperlukan.
19. Menggunakan
Smartwatch Sampai Kondisinya Tidak Aman
Ada
perbedaan antara perangkat yang mulai tua dan perangkat yang menunjukkan tanda
kerusakan serius.
Kalau
smartwatch hanya mempunyai goresan kecil, mungkin tidak menjadi masalah.
Tetapi
kalau:
baterai
terlihat menggelembung,
casing
mulai terangkat,
perangkat
sangat panas,
tercium
bau tidak normal,
atau
ada kerusakan fisik berat,
saya
tidak akan terus menggunakannya hanya karena masih bisa menyala.
Baterai
lithium-ion membutuhkan penanganan yang tepat.
Jika
terdapat tanda kerusakan, hentikan penggunaan dan cari layanan yang sesuai.
20. Menganggap
Semua Smartwatch Dirawat dengan Cara yang Sama
Ini
mungkin kesalahan terbesar.
Smartwatch
berbeda-beda.
Ada
yang dirancang untuk olahraga.
Ada
yang rugged.
Ada
yang fokus pada fashion.
Ada
yang mempunyai ketahanan air tinggi.
Ada
pula yang hanya dirancang menghadapi penggunaan sehari-hari.
Material
strap berbeda.
Jenis
charger berbeda.
Konstruksi
berbeda.
Karena
itu, petunjuk dari produsen tetap menjadi rujukan utama.
Tips
umum seperti artikel ini dapat membantu, tetapi spesifikasi perangkat sendiri
tetap harus diperhatikan.
Smartwatch Mahal Juga
Bisa Rusak
Harga
tinggi tidak membuat perangkat kebal terhadap kerusakan.
Smartwatch
premium mungkin menggunakan material yang lebih baik, kaca lebih kuat, atau
mempunyai standar ketahanan tertentu.
Tetapi
kalau terus terkena benturan, suhu ekstrem, penggunaan yang tidak sesuai, atau
baterainya sudah menua, perangkat tetap dapat mengalami masalah.
Begitu
pula smartwatch murah.
Murah
tidak otomatis berarti akan cepat rusak.
Kalau
digunakan sesuai kemampuan dan dirawat dengan baik, smartwatch terjangkau pun
bisa digunakan dalam waktu yang cukup lama.
Cara Sederhana
Saya Merawat Smartwatch
Saya
tidak mempunyai ritual khusus.
Justru
semakin sederhana, semakin mudah dilakukan secara rutin.
Setelah
olahraga, saya memastikan jam bersih dan kering.
Kalau
terkena air, saya tidak langsung memasangnya ke charger.
Bagian
belakang jam sesekali dibersihkan.
Strap
diperiksa.
Charger
tidak ditarik dari kabel.
Smartwatch
tidak diletakkan di tempat yang sangat panas.
Dan
saya tidak memaksakan fitur ketahanan air melebihi keterangan produsennya.
Tidak
rumit.
Tetapi
kebiasaan seperti inilah yang menurut saya lebih realistis dilakukan setiap
hari.
Kesimpulan
Smartwatch tidak selalu cepat
rusak karena kualitas produknya buruk.
Cara penggunaan juga mempunyai
pengaruh besar.
Kebiasaan seperti mengisi daya
ketika jam masih basah, menggunakan perangkat di kondisi yang tidak sesuai
dengan rating ketahanan air, membiarkan konektor kotor, memakai charger yang
tidak sesuai, atau terus menggunakan perangkat yang sudah menunjukkan tanda
kerusakan sebaiknya dihindari.
Smartwatch memang dibuat untuk
menemani aktivitas.
Tidak perlu terlalu takut
menggunakannya.
Saya juga tidak membeli
smartwatch hanya untuk disimpan agar selalu terlihat baru.
Tetapi ada perbedaan antara menggunakan
perangkat secara normal dan mengabaikan batas kemampuannya.
Setelah cukup sering
menggunakan smartwatch, saya justru merasa perawatan terbaik bukan sesuatu yang
rumit.
Cukup biasakan satu hal:
sebelum melakukan sesuatu
pada smartwatch, ingat bahwa benda kecil di pergelangan tangan itu tetap sebuah
perangkat elektronik.

0 Komentar