Sensor
Kesehatan pada Smartwatch: Seberapa Akurat dan Bisakah Dipercaya?
Kalau melihat perkembangan smartwatch beberapa tahun terakhir, saya
merasa fungsi jam pintar sudah berubah cukup jauh.
Dulu alasan utama memakai smartwatch mungkin hanya untuk melihat
notifikasi, menghitung langkah, atau sekadar mengganti tampilan jam.
Sekarang berbeda.
Hampir setiap smartwatch menawarkan berbagai fitur pemantauan
kesehatan dan kebugaran.
Mulai dari:
detak jantung, SpO2, kualitas tidur, stres, tekanan darah, bahkan pada beberapa produk kita bisa menemukan klaim pemantauan gula
darah.
Fitur-fitur tersebut memang menarik.
Saya sendiri cukup sering melihat data detak jantung atau tidur
setelah memakai smartwatch seharian. Rasanya menyenangkan karena kita
mendapatkan gambaran mengenai aktivitas tubuh tanpa harus melakukan banyak hal.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting daripada
sekadar melihat banyaknya sensor:
Seberapa jauh data smartwatch tersebut boleh kita percaya?
Sebab smartwatch tetaplah perangkat elektronik yang dipakai di
pergelangan tangan.
Dan untuk urusan kesehatan, menurut saya kita harus bisa membedakan
antara informasi kebugaran dengan hasil pemeriksaan medis.
Mengapa
Smartwatch Bisa Mengukur Detak Jantung?
Kalau
membalik smartwatch, biasanya kita akan melihat beberapa sensor dan lampu kecil
di bagian belakang.
Pada
banyak smartwatch, pengukuran detak jantung dilakukan menggunakan teknologi
optik yang dikenal sebagai PPG atau photoplethysmography.
Secara
sederhana, sensor memanfaatkan cahaya untuk membaca perubahan aliran darah pada
jaringan di bawah kulit.
Dari
perubahan tersebut, perangkat kemudian menggunakan algoritma untuk
memperkirakan denyut jantung.
Itulah
sebabnya ketika fitur detak jantung sedang aktif, kita sering melihat lampu
hijau menyala di bagian bawah smartwatch.
Teknologinya
menarik karena memungkinkan pengukuran dilakukan langsung dari pergelangan
tangan.
Namun
tetap perlu diingat:
smartwatch sedang melakukan estimasi berdasarkan sensor dan
algoritma.
Apakah Detak
Jantung Smartwatch Akurat?
Untuk
pemantauan kebugaran sehari-hari, sensor detak jantung pada smartwatch yang
baik bisa memberikan informasi yang cukup berguna.
Misalnya
kita dapat melihat:
·
detak jantung saat
beristirahat,
·
perubahan ketika berolahraga,
·
tren detak jantung sepanjang
hari,
·
serta data selama aktivitas
tertentu.
Saya
pribadi lebih suka melihat tren daripada terpaku pada satu angka.
Misalnya
detak jantung saat berolahraga memang meningkat kemudian kembali turun setelah
aktivitas selesai.
Informasi
seperti itu terasa lebih berguna dibanding terus membandingkan apakah angka
smartwatch berbeda satu atau dua denyut dari perangkat lain.
Namun
akurasi dapat dipengaruhi banyak hal.
Posisi Smartwatch
Sangat Berpengaruh
Ini
salah satu hal yang kadang dianggap sepele.
Smartwatch
yang terlalu longgar dapat bergerak di pergelangan tangan.
Ketika
sensor tidak mempunyai kontak yang baik dengan kulit, pembacaan bisa menjadi
kurang konsisten.
Sebaliknya,
strap juga tidak perlu dikencangkan sampai membuat tangan tidak nyaman.
Saya
biasanya memasang smartwatch cukup pas agar bagian belakang jam tetap menempel
pada kulit tetapi tidak terasa menekan berlebihan.
Saat
olahraga, posisi jam juga perlu diperhatikan karena gerakan tangan yang cepat
dapat memengaruhi pembacaan sensor optik.
Keringat dan
Gerakan Bisa Mempengaruhi Pembacaan
Ketika
berolahraga, kondisi pengukuran menjadi lebih sulit.
Tangan
bergerak.
Kulit
berkeringat.
Posisi
smartwatch dapat bergeser.
Sensor
harus membaca perubahan aliran darah di tengah berbagai gangguan tersebut.
Karena
itu, angka detak jantung ketika kita duduk diam biasanya lebih mudah diperoleh
secara konsisten dibanding ketika melakukan olahraga dengan banyak gerakan
tangan.
Kualitas
algoritma dan sensor pada setiap smartwatch juga berbeda.
Jangan
menganggap dua smartwatch yang sama-sama mempunyai sensor detak jantung pasti
menghasilkan kualitas pembacaan yang sama.
Apa Itu SpO2 pada
Smartwatch?
SpO2
merupakan perkiraan saturasi oksigen dalam darah.
Fitur ini
sekarang sudah cukup umum bahkan pada smartwatch dengan harga terjangkau.
Biasanya
kita hanya perlu membuka menu SpO2, kemudian diam selama beberapa saat sampai
pengukuran selesai.
Angkanya
kemudian muncul dalam bentuk persentase.
Fitur ini
menarik untuk melihat data kebugaran.
Tetapi
menurut saya, bagian ini perlu mendapat perhatian khusus.
SpO2
smartwatch konsumen tidak sebaiknya langsung dianggap sama dengan alat medis.
Kalau
seseorang benar-benar membutuhkan pemeriksaan saturasi oksigen karena alasan
kesehatan, gunakan perangkat medis yang sesuai dan konsultasikan dengan tenaga
kesehatan.
Mengapa Hasil SpO2
Bisa Berbeda-beda?
Ada
beberapa faktor yang dapat memengaruhi pembacaan sensor optik di pergelangan
tangan.
Misalnya:
·
posisi smartwatch,
·
gerakan tangan,
·
kontak sensor dengan kulit,
·
suhu kulit,
·
kondisi lingkungan,
·
kualitas sensor,
·
serta algoritma perangkat.
Itulah
sebabnya ketika melakukan pengukuran, biasanya kita diminta untuk diam.
Kalau
angka terlihat aneh, jangan langsung panik hanya karena satu kali pembacaan
smartwatch.
Ulangi
sesuai petunjuk perangkat.
Dan
jika ada kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan, pemeriksaan menggunakan
perangkat medis serta tenaga profesional jauh lebih tepat.
Bagaimana
Smartwatch Mendeteksi Tidur?
Ini
salah satu fitur yang cukup saya sukai.
Kita
tidur seperti biasa, lalu pagi hari smartwatch memberikan laporan.
Misalnya:
waktu
tidur, waktu bangun, durasi tidur, dan pada
beberapa perangkat terdapat pembagian fase tidur.
Pertanyaannya:
Bagaimana
smartwatch tahu kita sedang tidur?
Perangkat
biasanya menggunakan kombinasi data seperti gerakan tubuh, detak jantung, serta
algoritma untuk memperkirakan pola tidur.
Artinya,
smartwatch tidak benar-benar “melihat” kita sedang tidur.
Ia
membaca pola dari sensor.
Apakah Data Tidur
Smartwatch Akurat?
Menurut
saya, fitur tidur paling berguna untuk melihat kebiasaan dan tren.
Misalnya
kita baru menyadari bahwa selama seminggu terakhir rata-rata hanya tidur
sekitar enam jam.
Informasi
tersebut bisa menjadi pengingat bahwa pola tidur kita perlu diperhatikan.
Tetapi
saya tidak akan menganggap setiap menit fase deep sleep atau REM yang
ditampilkan smartwatch sebagai hasil yang setara dengan pemeriksaan tidur
klinis.
Untuk
mengetahui kondisi tidur secara medis, metode pemeriksaannya jauh lebih
kompleks daripada hanya memakai jam di pergelangan tangan.
Jadi
gunakan data smartwatch sebagai gambaran kebiasaan, bukan diagnosis.
Bagaimana dengan Fitur
Stres?
Beberapa
smartwatch memberikan skor stres sepanjang hari.
Ini juga
sering membuat pengguna penasaran.
Smartwatch
tidak membaca pikiran kita.
Perangkat
biasanya memperkirakan kondisi tubuh berdasarkan parameter tertentu seperti
variasi detak jantung dan data sensor lainnya, tergantung algoritma
produsennya.
Karena itu,
skor stres lebih baik dipahami sebagai indikator kebugaran berdasarkan data
fisiologis yang dapat dibaca perangkat.
Jangan
langsung menyimpulkan kondisi psikologis hanya berdasarkan angka di smartwatch.
Tekanan Darah
pada Smartwatch, Apakah Bisa Dipercaya?
Nah,
ini salah satu fitur yang menurut saya harus dipahami dengan sangat hati-hati.
Ada
smartwatch tertentu yang mempunyai kemampuan pengukuran tekanan darah dengan
teknologi, kalibrasi, dan persetujuan regulasi tertentu.
Namun
di pasaran juga banyak smartwatch murah yang menampilkan menu Blood Pressure
tanpa penjelasan yang jelas mengenai metode pengukurannya.
Dua
hal tersebut tidak boleh dianggap sama.
Kalau
seseorang membutuhkan pemantauan tekanan darah karena alasan kesehatan, saya
tidak menyarankan mengganti tensimeter medis hanya karena smartwatch mempunyai
ikon tekanan darah.
Gunakan
alat yang memang sesuai untuk tujuan medis.
Smartwatch
dapat menjadi perangkat pendamping jika fitur dan produsennya memang memberikan
dasar yang jelas, tetapi bukan alasan untuk meninggalkan pemeriksaan yang
semestinya.
Bagaimana dengan
Smartwatch yang Mengklaim Bisa Cek Gula Darah?
Ini
bahkan perlu lebih berhati-hati.
Belakangan
cukup banyak smartwatch yang menggunakan istilah seperti:
Blood Glucose Monitoring
atau
Glucose Measurement.
Bagi
calon pembeli, fitur tersebut terdengar luar biasa.
Cukup
memakai jam, kemudian kadar gula darah muncul tanpa mengambil sampel darah.
Masalahnya,
pengukuran glukosa non-invasif yang akurat merupakan teknologi yang sangat
kompleks.
Karena
itu, jangan mengandalkan smartwatch konsumen biasa untuk menentukan kadar gula
darah atau mengambil keputusan medis kecuali perangkat tersebut memang
mempunyai teknologi dan persetujuan regulasi yang secara khusus mendukung
penggunaan tersebut.
Kalau
mempunyai kebutuhan pemantauan gula darah, gunakan metode yang direkomendasikan
tenaga kesehatan.
Jangan Tertipu
Banyaknya Menu Kesehatan
Ini
salah satu hal yang saya perhatikan ketika mencoba berbagai smartwatch.
Smartwatch
dengan menu kesehatan lebih banyak belum tentu mempunyai sensor yang lebih
baik.
Ada
produk yang menampilkan banyak sekali menu:
detak
jantung,
SpO2,
tekanan
darah,
stres,
gula
darah,
suhu,
dan
berbagai parameter lainnya.
Secara
visual memang terlihat canggih.
Tetapi
sebagai pengguna, saya justru lebih tertarik pada pertanyaan:
Bagaimana perangkat mendapatkan data tersebut?
Sensor apa yang digunakan?
Apakah produsennya menjelaskan batas penggunaannya?
Apakah hasilnya konsisten?
Lebih
baik mempunyai beberapa fitur yang bekerja dengan baik daripada puluhan angka
yang kita sendiri tidak mengetahui asal pengukurannya.
Apakah
Smartwatch Bisa Menggantikan Alat Medis?
Untuk
smartwatch konsumen secara umum:
jangan menganggapnya sebagai pengganti alat medis.
Smartwatch
sangat bagus sebagai perangkat pemantauan kebugaran.
Ia
selalu berada di pergelangan tangan sehingga dapat membantu kita melihat
kebiasaan dalam jangka panjang.
Misalnya:
berapa
banyak kita berjalan,
berapa
lama tidur,
bagaimana
perubahan detak jantung saat olahraga,
atau
seberapa aktif kita selama sehari.
Nilai
terbesar smartwatch menurut saya justru berada pada kemudahan melihat tren.
Bukan
menggantikan dokter.
Kapan Data
Smartwatch Menjadi Berguna?
Misalnya
saya mulai rutin berjalan kaki setiap pagi.
Setelah
beberapa minggu, aplikasi smartwatch menunjukkan bahwa jumlah langkah meningkat
dan durasi aktivitas menjadi lebih konsisten.
Informasi
seperti itu berguna.
Atau
kita menyadari waktu tidur terus berkurang karena sering tidur terlalu malam.
Smartwatch
membantu membuat kebiasaan tersebut terlihat dalam bentuk data.
Tanpa
smartwatch, kita mungkin tidak terlalu memperhatikannya.
Inilah
alasan saya tetap menyukai fitur kesehatan smartwatch meskipun tidak
menganggapnya sebagai perangkat medis.
Jangan Terlalu
Terobsesi dengan Angka
Ini
juga penting.
Karena
smartwatch dapat mengukur berbagai hal sepanjang hari, terkadang kita justru
terlalu sering melihat data.
Detak
jantung berubah sedikit, langsung khawatir.
Skor
tidur turun, langsung merasa tidur semalam buruk.
SpO2
sekali membaca berbeda, langsung mencari penyakit di internet.
Padahal
tubuh manusia tidak selalu menghasilkan angka yang sama setiap saat.
Sensor
wearable juga mempunyai keterbatasan.
Menurut
saya, smartwatch seharusnya membantu kita menjalani gaya hidup yang lebih
sadar, bukan membuat kita terus-menerus cemas terhadap angka.
Bandingkan Tren,
Bukan Satu Pengukuran
Kalau
ingin memanfaatkan data smartwatch dengan lebih baik, lihat pola dalam jangka
waktu tertentu.
Contohnya:
Bagaimana
rata-rata waktu tidur selama satu bulan?
Apakah
aktivitas harian meningkat?
Bagaimana
detak jantung ketika melakukan jenis olahraga yang sama?
Berapa
hari dalam seminggu kita mencapai target aktivitas?
Pertanyaan
seperti ini jauh lebih berguna daripada memperdebatkan satu angka pengukuran.
Smartwatch Mahal
Apakah Pasti Lebih Akurat?
Tidak
selalu hanya karena harganya mahal.
Tetapi
perangkat dari produsen yang mempunyai penelitian sensor, algoritma matang,
dokumentasi jelas, dan validasi yang baik tentu memberikan alasan lebih kuat
untuk dipercaya sesuai fungsi yang dinyatakan.
Harga
smartwatch juga dipengaruhi banyak hal:
material,
layar,
GPS,
ekosistem,
aplikasi,
fitur
komunikasi,
desain,
serta
merek.
Karena
itu, jangan menilai kualitas sensor hanya dari harga.
Cari
pengujian yang kredibel dan pahami fungsi perangkatnya.
Tips Mendapatkan
Pembacaan Sensor yang Lebih Konsisten
Ada
beberapa kebiasaan sederhana yang biasanya saya lakukan.
Gunakan
Smartwatch dengan Posisi yang Pas
Jangan
terlalu longgar.
Pastikan
sensor belakang mempunyai kontak yang baik dengan kulit.
Bersihkan Bagian Sensor
Keringat, debu,
lotion, atau kotoran dapat menempel di bagian belakang smartwatch.
Bersihkan sesuai
petunjuk produsen.
Diam Saat Melakukan
Pengukuran Manual
Kalau
mengukur SpO2 atau parameter lain secara manual, jangan banyak bergerak.
Ikuti
posisi yang disarankan perangkat.
Gunakan pada
Pergelangan yang Sesuai
Beberapa
aplikasi smartwatch meminta kita menentukan apakah jam digunakan pada tangan
kiri atau kanan.
Atur
sesuai penggunaan.
Perbarui Firmware
Produsen terkadang
memperbaiki algoritma atau masalah sensor melalui pembaruan.
Kalau tersedia update
resmi, baca informasinya dan lakukan sesuai petunjuk.
Kapan Sebaiknya
Tidak Mengandalkan Smartwatch?
Kalau
kita mengalami keluhan kesehatan atau mendapatkan angka yang terasa
mengkhawatirkan secara berulang, jangan mencoba mendiagnosis diri hanya
menggunakan smartwatch.
Begitu
pula kalau smartwatch memberikan hasil yang berbeda dengan alat medis.
Untuk
keputusan mengenai kesehatan, pemeriksaan yang tepat dan tenaga kesehatan tetap
menjadi rujukan.
Smartwatch
dapat memberikan informasi tambahan.
Tetapi
keputusan medis membutuhkan dasar yang lebih kuat.
Jadi, Sensor
Kesehatan Smartwatch Itu Berguna atau Tidak?
Menurut
saya:
sangat berguna, selama kita memahami batasnya.
Saya
suka bisa melihat detak jantung ketika olahraga.
Saya
suka mengetahui berapa lama tidur.
Saya
suka melihat jumlah langkah dan aktivitas harian.
Data
tersebut membuat smartwatch terasa lebih dari sekadar jam.
Tetapi
saya tidak menggunakan setiap angka yang muncul sebagai diagnosis kesehatan.
Dan
menurut saya, itulah cara yang paling masuk akal menggunakan sensor smartwatch.
Kesimpulan
Sensor kesehatan merupakan
salah satu fitur yang membuat smartwatch menarik untuk digunakan setiap hari.
Detak jantung, SpO2, tidur,
stres, dan berbagai data kebugaran dapat membantu kita memahami pola aktivitas
tubuh dengan lebih mudah.
Namun akurasi sensor
dipengaruhi oleh kualitas perangkat, posisi pemakaian, gerakan, kondisi kulit,
algoritma, serta berbagai faktor lainnya.
Karena itu, data smartwatch
paling baik digunakan untuk melihat tren kebugaran dan aktivitas, bukan
sebagai pengganti pemeriksaan medis.
Kita juga perlu lebih
berhati-hati terhadap fitur seperti tekanan darah dan gula darah pada
smartwatch yang tidak mempunyai penjelasan teknologi serta validasi yang jelas.
Dari pengalaman menggunakan
smartwatch, saya justru merasa perangkat ini paling bermanfaat ketika kita
tidak terlalu terobsesi mengejar angka yang sempurna.
Smartwatch memberi kita
petunjuk.
Kita yang kemudian menggunakan
informasi tersebut untuk memahami kebiasaan sehari-hari.

0 Komentar